JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Campus League Badminton Season 1 2026 akan menjadi kompetisi bulu tangkis mahasiswa pertama di Indonesia yang mengadopsi sistem skor terbaru dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
Penerapan regulasi baru tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan atmosfer pertandingan yang selaras dengan perkembangan bulu tangkis internasional sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan atlet di lingkungan perguruan tinggi.
CEO Campus League, Ryan Gozali, mengatakan penggunaan sistem skor terbaru merupakan langkah strategis agar mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan regulasi yang berlaku di level dunia.
Menurutnya, kompetisi mahasiswa harus menjadi jembatan menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi sehingga format pertandingan perlu mengikuti standar internasional.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mendapatkan jam terbang bertanding, tetapi juga beradaptasi dengan perkembangan regulasi internasional,” ujar Ryan Gozali dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Campus League Badminton Season 1 2026 membuka pendaftaran peserta hingga 5 Agustus 2026.
Kompetisi akan diawali dengan seri Regional Jabodetabek pada 19 Agustus 2026 sebelum berlanjut ke sejumlah kota lainnya, yakni Semarang, Surabaya, Samarinda, dan Bandung.

Bandung juga dipercaya menjadi tuan rumah putaran puncak bertajuk The Nationals, yang akan mempertemukan para juara regional untuk memperebutkan gelar nasional.
Ryan menjelaskan, Campus League Badminton mempertandingkan dua kategori utama, yakni nomor perseorangan dan beregu.
Pada kategori perseorangan, pertandingan menggunakan format best of three games dengan sistem 15 poin pada setiap gim sesuai regulasi terbaru BWF.
Sementara itu, kategori beregu menggunakan format skor kumulatif hingga 55 poin, yang menuntut setiap pemain memberikan kontribusi maksimal bagi tim.
Menurut Ryan, penerapan sistem skor baru tersebut dilakukan sejalan dengan arahan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sebagai induk organisasi bulu tangkis nasional.
Dengan demikian, para mahasiswa dapat lebih siap apabila nantinya mengikuti kompetisi yang menggunakan regulasi serupa di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menilai format baru akan membuat pertandingan berlangsung lebih cepat, dinamis, dan kompetitif.
Selain menguji kemampuan teknik, sistem tersebut juga menuntut pemain memiliki konsentrasi tinggi sejak awal pertandingan karena setiap poin memiliki arti yang sangat penting.
Ryan berharap kompetisi ini dapat menjadi wadah pembinaan atlet mahasiswa sekaligus memperluas basis prestasi bulu tangkis Indonesia.
Campus League Badminton terbuka bagi seluruh mahasiswa aktif dari perguruan tinggi yang terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
Peserta dapat berasal dari jenjang pendidikan Diploma 1 (D1) hingga Program Doktor (S3), selama masih berstatus mahasiswa aktif.
Selain itu, peserta wajib tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bulu tangkis di kampus masing-masing.
Panitia juga menetapkan sejumlah persyaratan administratif lainnya.
Setiap peserta harus memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2,25, lahir pada tahun 2003 atau setelahnya, serta memiliki kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang masih aktif.
Untuk kategori beregu, setiap perguruan tinggi diperbolehkan mendaftarkan maksimal satu tim putra dan satu tim putri.
Setiap tim dapat diperkuat maksimal 20 atlet dan enam ofisial.
Sementara pada kategori perseorangan, masing-masing perguruan tinggi diperbolehkan mengirimkan maksimal dua atlet pada setiap nomor pertandingan.
Panitia menetapkan biaya pendaftaran sebesar Rp2 juta untuk kategori beregu dan Rp200 ribu bagi setiap peserta kategori perseorangan.
Selain mengutamakan prestasi olahraga, Campus League juga menekankan pentingnya pembentukan karakter mahasiswa melalui kegiatan sosial.
Seluruh peserta diwajibkan mengikuti program Social Service sebagai bagian dari tiga pilar utama Campus League, yakni Athleticism, Academics, dan Affinity.
Program tersebut dapat berupa coaching clinic, donor darah, bakti sosial, maupun kegiatan sosial lain yang telah mendapat persetujuan dari penyelenggara.
Keikutsertaan dalam kegiatan sosial menjadi salah satu syarat bagi atlet dan ofisial untuk tampil pada putaran The Nationals.
Ryan menegaskan kebijakan tersebut bertujuan membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam bidang olahraga, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Menurutnya, pembinaan atlet modern harus berjalan seiring dengan pengembangan karakter, akademik, dan jiwa sosial.
Karena itu, Campus League tidak sekadar menghadirkan kompetisi olahraga, melainkan juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk berkembang secara menyeluruh.
Panitia mengimbau seluruh perguruan tinggi yang ingin berpartisipasi segera melengkapi dokumen pendaftaran sebelum batas waktu yang telah ditentukan.
Proses registrasi dilakukan melalui pengiriman surat pernyataan keikutsertaan dari perguruan tinggi kepada pihak Campus League.
Informasi mengenai persyaratan peserta, mekanisme pendaftaran, dokumen yang diperlukan, hingga buku peraturan kompetisi telah disiapkan oleh penyelenggara.
Dengan mengusung sistem pertandingan terbaru BWF, Campus League Badminton Season 1 2026 diharapkan menjadi tonggak baru pembinaan bulu tangkis mahasiswa di Indonesia sekaligus melahirkan atlet-atlet potensial yang siap bersaing pada level nasional maupun internasional. (09/AGF).










