JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pertumbuhan ekonomi nasional yang semula ditargetkan tumbuh 5 persen. Kini pemerintah hanya optimis bisa tumbuh 3,7 persen atau dalam rentang 3,5 persen sampai 4 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui tidak semua asumsi dasar pertumbuhan ekonomi tahun 2021 dalam UU APBN 2021 tercapai. Sebagian besar meleset dari target pemerintah karena adanya penyebaran Covid-19 varian delta di pertengahan tahun lalu.
“Pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari asumsi APBN yang tadinya 5 persen,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (3/1/2022).
Tingkat inflasi diperkirakan 1,87 persen dari asumsi 3 persen. Meski begitu, Sri Mulyani menyebutkan capaian inflasi tahun 2021 lebih baik dari tahun 2020 yang terjaga rendah di angka 1,68 persen.
Tingkat suku bunga yang diasumsikan akan berada di level 7,3 persen, realisasinya diperkirakan hanya 6,35 persen. Angka ini relatif lebih baik dari tahun 2020 di level 5,8 persen.
Begitu juga dengan nilai tukar rupiah yang juga masih dibawah asumsi APBN 2021 yakni Rp 14.312, padahal asumsinya Rp 14.600. Namun Sri Mulyani mengatakan nilai tukar rupiah masih lebih baik dari tahun 2020 yang rata-ratanya Rp 14.577.
Sementara dari sisi harga komoditas rata-rata mengalami peningkatan harga. Realisasi harga batubara meningkat menjadi USD 68 per barel dari asumsi USD 45 per barel. Meskipun harga komoditas mengalami peningkatan, namun dari sisi realisasi produksi masih rendah.
Misalnya lifting minyak hanya 662 ribu barel per hari dari target 705 ribu barel per hari. Sedangkan gas produksinya hanya 982 ribu barel per hari dari target 1.007.000 barel per hari ekuivalen minyak bumi.(red)









