Mengembalikan Budi Pekerti sebagai Jantung Pendidikan Kita

Mengembalikan Budi Pekerti sebagai Jantung Pendidikan Kita
Heru Riyadi, S.H., M.H.(Foto: Istimewa)

“Apakah pendidikan hari ini masih membentuk budi pekerti, atau hanya sibuk mengasah otak? Semoga semakin banyak pihak yang menyadari bahwa tanpa budi pekerti, pendidikan hanyalah kesombongan yang disamarkan dengan gelar.”

Oleh: Heru Riyadi, S.H., M.H.

Kita hidup pada zaman ketika kecerdasan kognitif dianggap segalanya. Dari peserta didik di Sekolah Dasar hingga mahasiswa yang juara kelas dielu-elukan, sementara mereka yang jujur dan santun kerap terabaikan. Padahal, pendidikan sejati seharusnya tidak hanya mengasah otak, tetapi juga membentuk budi. Ironisnya, banyak orang cerdas justru gagal menjadi manusia bijak.

Fakta dari World Economic Forum (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen perusahaan global kini lebih menilai integritas dan empati daripada IQ tinggi saat merekrut pemimpin. Artinya, moralitas dan karakter menjadi fondasi kesuksesan sejati di abad ini.

Kita terlalu sibuk mengejar nilai hingga lupa bertanya: nilai itu untuk apa?

Peserta didik sejak Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi dibesarkan dengan target angka, bukan kebijaksanaan. Mereka belajar menghafal teori, tetapi tidak belajar memahami manusia. Akibatnya, banyak lulusan berprestasi tetapi rapuh, pintar berdebat, namun miskin empati. Padahal, bangsa tidak akan besar oleh otak yang tajam, melainkan oleh hati yang luhur.

1. Pendidikan tanpa budi pekerti hanya melahirkan kecerdasan tanpa arah

Peserta didik bisa hafal rumus matematika, tetapi tetap tega menyontek. Mereka bisa fasih berbahasa asing, namun kasar kepada temannya. Inilah tanda pendidikan kehilangan ruhnya. Ketika sekolah hanya menilai kemampuan kognitif, nilai-nilai moral tersisih dan terlupakan.

BACA JUGA  Bupati Motivasi UPTD Disdik Guna Meningkatkan Mutu Pendidikan di Asahan

Sebenarnya, budi pekerti bukan pelengkap, melainkan inti dari pendidikan itu sendiri. Karena itu, sistem perlu dibangun untuk menyeimbangkan ilmu dan moral. Sejarah pemikiran filsuf pun menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan manusia yang pandai memanipulasi, bukan membangun.

2. Orang tua, guru, dan dosen adalah dua wajah dari satu cermin moral

Banyak peserta didik kehilangan arah bukan karena tidak diajari, melainkan karena melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan orang dewasa. Guru mengajarkan kejujuran, tetapi murid melihatnya curang dalam penilaian. Orang tua menasihati sopan santun, tetapi marah tanpa kendali di rumah.

Pendidikan karakter tidak dapat berdiri di atas kemunafikan. Peserta didik belajar dari keteladanan. Maka, memperbaiki budi pekerti anak dimulai dengan memperbaiki moral para pendidik dan orang tua. Tanpa itu, pendidikan hanya menjadi formalitas yang kehilangan jiwa.

3. Sekolah modern terlalu sibuk mencetak kompetitor, bukan manusia

Persaingan akademik kini sering kali lebih keras daripada dunia bisnis. Anak-anak sejak kecil ditanamkan bahwa mereka harus menang, harus lebih pintar, harus lebih cepat. Dalam sistem seperti ini, empati dianggap kelemahan, kolaborasi dicurigai sebagai kecurangan.

Padahal, dunia kerja dan kehidupan sosial membutuhkan kemampuan bekerja sama, memahami orang lain, dan menghargai perbedaan. Pendidikan yang menumbuhkan budi pekerti justru melatih itu semua. Ketika anak belajar menghargai teman yang kalah dalam lomba, ia sedang belajar menjadi pemimpin yang adil di masa depan.

BACA JUGA  Mengharapkan BRIN Jadi Lembaga Brillian

4. Nilai moral adalah fondasi kecerdasan sosial

Peserta didik yang pintar tetapi tidak beradab dapat menjadi ancaman bagi masyarakat. Mereka dapat menggunakan ilmunya untuk menipu, mengeksploitasi, atau menindas. Karena itu, nilai moral bukan sekadar tambahan, melainkan pagar agar kecerdasan tidak salah arah.

Budi pekerti mengajarkan keseimbangan antara logika dan hati. Anak yang berakal tajam tetapi berhati baik akan tahu kapan harus bersaing dan kapan harus menolong. Inilah manusia yang dibutuhkan dunia: bukan sekadar cerdas di atas kertas, tetapi bijak dalam tindakan.

5. Kurikulum yang menekankan kognisi harus berani direvisi

Kita masih mengukur kecerdasan dari ujian tulis dan peringkat kelas. Padahal, peserta didik yang tidak menonjol secara akademik bisa jadi lebih unggul dalam kecerdasan emosional. Sayangnya, sistem pendidikan jarang memberi ruang bagi kemampuan itu.

Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi seharusnya menjadi tempat membangun manusia seutuhnya, bukan pabrik nilai. Menanamkan budi pekerti dapat dimulai dari hal sederhana: memberi kesempatan anak memimpin kelompok, berdiskusi tentang moral, atau merefleksikan tindakan sehari-hari.

6. Budi pekerti adalah pelindung dari kemajuan yang membutakan

Kemajuan teknologi membuat manusia semakin pintar, tetapi tidak selalu semakin bijak. Banyak orang sukses yang kehilangan rasa kemanusiaan. Budi pekerti menjadi penyeimbang agar kecerdasan tidak berubah menjadi kesombongan.

Dalam dunia yang kian terpolarisasi, pendidikan berbasis moral menjadi kebutuhan mendesak. Ia melatih anak berpikir reflektif, mempertimbangkan etika sebelum bertindak, dan menghormati sesama. Tanpanya, pendidikan hanya mencetak generasi yang cepat berpikir, tetapi dangkal memahami.

BACA JUGA  Pembahasan RUU Sisdiknas Harus Dijauhkan dari Kepentingan Oligarki

7. Tujuan akhir pendidikan adalah kebijaksanaan, bukan semata-mata kepintaran

Kita perlu kembali pada esensi pendidikan sebagaimana diajarkan Ki Hadjar Dewantara: menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Itu berarti pendidikan bukan hanya tentang mengetahui, tetapi tentang menjadi.

Peserta didik yang berilmu akan dihormati, tetapi mereka yang berbudi akan dikenang. Itulah perbedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan. Maka, tugas para pendidik bukan mencetak manusia pintar yang dingin, tetapi manusia yang cerdas sekaligus berjiwa hangat.

Jadi, apakah pendidikan hari ini masih membentuk budi pekerti, atau hanya sibuk mengasah otak? Semoga semakin banyak pihak yang menyadari bahwa tanpa budi pekerti, pendidikan hanyalah kesombongan yang disamarkan dengan gelar.

*Penulis adalah Dosen Etika Profesi Fakultas Hukum Universitas Pamulang