Tragedi Kanjuruhan dan Prediksi Sanksi FIFA

Tragedi Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pertandingan pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 yang mempertemukan sang tuan rumah, Arema FC menghadapi Persebaya (1/10) berubah menjadi bencana.

Pasalnya tepat selepas peluit panjang berbunyi untuk kemenangan tim tamu dengan skor akhir 3-2, kerusuhan pecah. Ribuan suporter tuan rumah turun menyerbu ke dalam area pertandingan dari bangku tribun.

IMG-20220125-WA0002

Keadaan pun menjadi tidak terkendali. Massa yang mengamuk ditambah respon dari pihak kepolisian yang menembakkan gas air mata membuat keadaan kian tidak terkendali.

Kekacauan tersebut membuat banyak orang menjadi panik dan ditambah dengan pedihnya mata akibat gas air mata semakin mempersulit keadaan. Belum lagi keadaan yang semakin kacau akibat terjadi sejumlah aksi pembakaran mobil polisi di dalam maupun luar stadion.

Akibat kondisi tersebut, menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy 125 orang dilaporkan kehilangan nyawa di Stadion Kanjuruhan, Malang. Jumlah tersebut juga belum termasuk dengan 302 orang mengalami luka ringan dan 21 orang mengalami luka berat.

Melihat banyaknya korban yang diakibatkan dari Tragedi Kanjuruhan ini, seluruh dunia pun mengarahkan atensinya ke Indonesia.

Banyaknya jumlah korban tewas yang sejauh ini mencapai 125 jiwa menjadikan Tragedi Kanjuruhan sebagai peristiwa kematian suporter terbanyak ke-3 di dunia.

Selain itu, sorotan dunia juga mengarah kepada penggunaan gas air mata di dalam sebuah pertandingan sepak bola yang sudah jelas menyalahi aturan FIFA.

Dengan sangat jelas, FIFA melarang keras penggunaan gas air mata dalam kode keamanan yang tertuang dalam Pasal 19b yang berbunyi:”Senjata atau gas pengendali massa tidak boleh dibawa atau digunakan.”

Buntut dari kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang ini, Indonesia pun terancam mendapat sanksi berat. Mulai dari:

1) Pertandingan liga Indonesia dibekukan selama 8 tahun,

2) Pembatalan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 akibat alasan keamanan,

3) Pencabutan hak bermain di Piala Asia 2023 pada 16 Juni-16 Juli 2023 dan Piala Asia U-20 akan digelar 1-16 Maret 2022 di Uzbekistan.

4) Klub Indonesia dilarang berlaga di AFC Cup dan Liga Champions Asia,

5) Laga liga Indonesia digelar tanpa penonton dalam waktu yang lama.

Namun, sejauh ini FIFA sendiri belum mengeluarkan respon lebih lanjut terkait sanksi atau tindakan tegas terkait Tragedi Kanjuruhan ini.

Jika melihat tujuh poin kemungkinan hukuman FIFA yang berpeluang datang, nomor empat tentu menjadi perhatian penting untuk Bali United.

Pasalnya, skuad Bali United menjadi tim yang pernah mewakili Indonesia pada ajang Asia ini di beberapa kali kesempatan.

Serdadu Tridatu sendiri sudah melakoni kesempatan tampil di Liga Champions Asia tahun 2018 dan 2020. Fase pertama Asia tersebut hanya sampai fase kualifikasi saja.

Sementara AFC Cup pada tahun 2018, 2020 dan 2022. Sayang, langkahnya pada fase kedua Asia di Piala AFC hanya di babak penyisihan grup. Khusus tahun 2020, kompetisi dihentikan karena situasi pandemi yang melanda.

Jika memang kesempatan untuk kembali tampil di kompetisi Asia menjadi salah satu hukuman FIFA, maka sangat disayangkan jika tim Indonesia gagal tampil di ajang internasional tersebut.

Padahal, Bali United pernah mendunia saat tampil di Asia melalui gol spektakuler sang kapten, Fadil pada edisi 2018.

Gol kapten Bali United, Fadil Sausu, ke gawang Tampines Rovers dalam laga kualifikasi pertama Liga Champions Asia masuk daftar lima gol terbaik dunia versi ESPN PRESS PASS.

Hal ini membuat Fadil bangga karena apa yang dilakukannya bisa mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Golnya setara dengan pemain top dunia di lapangan hijau.

“Ya, yang pasti saya tidak sebanding dengan pemain top dunia. Saya hanya pemain biasa yang bermain untuk Bali United. Saya bersyukur bisa mengharumkan nama Bali United di dunia. Semoga saya lebih baik lagi bersama Bali United,” ungkap Fadil kala itu.

Aksi Fadil ini terjadi pada menit ke-16 untuk membawa Bali United memimpin 1-0 atas klub Singapura tersebut dalam laga pada Selasa (16/1/2018).

Dari luar kotak penalti, Fadil melepaskan tendangan keras dengan kaki kiri dan bola menembus pojok kanan atas gawang lawan.

Bali United mengakhiri laga tersebut dengan kemenangan 3-1 untuk lolos ke kualifikasi kedua melawan klub Thailand, Chiangrai United.

ESPN menempatkan gol spektakuler ini di urutan ketiga. Tembakan pemain bernomor punggung 14 ini mengalahkan gol striker Manchester United, Anthony Martial, yang berada di urutan kelima dan gol Angel Di Maria (PSG tahun 2018) di peringkat empat.

Di atas gol Fadil ada pemain termahal di dunia, Neymar (PSG), serta gol gelandang asal Perancis yang bermain untuk Olympique de Marseille, Dimitri Payet, yang menempati posisi teratas.

Kesempatan tampil di Asia menjadi momentum para pemain lapangan hijau di Indonesia untuk merasakan persaingan dengan klub-klub Asia. Ketika kesempatan itu dilarang oleh FIFA akibat imbas dari tragedi Kanjuruhan, sangat disayangkan tim-tim lokal ini tidak memiliki momentum berharga.

Seperti Fadil yang mengakui kesempatan berada di persaingan kompetisi Asia hingga golnya dikenal dunia menjadi pencapaian karier yang memuaskan di lapangan hijau. Selain membawa prestasi atas pribadi, membawa nama klub mewakili Indonesia di mata dunia juga menjadi pencapaian luar biasa.

“Banyak momentum yang tidak bisa saya lupakan sebagai pemain bola. Namun satu momen yang tidak bisa saya lupakan tentu gol saya yang masuk daftar gol terbaik di dunia pada tahun 2018 lalu saat tampil di kompetisi Asia,” tegas Fadil.

Jika menilik lebih lanjut beberapa tragedi besar di stadion sepak bola, sebagian besar tidak mendapat hukuman dari FIFA.

Konsekuensi yang biasanya muncul adalah investigasi dan terkait masalah penangguhan kompetisi menjadi keputusan dari otoritas terkait.

Sebagai contoh, tragedi di Ellis Park Afrika Selatan pada tahun 2001 silam tidak membuat Afrika Selatan ditangguhkan dari pengajuan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Hal tersebut lantaran peristiwa pilu yang menewaskan 43 jiwa itu terjadi di liga domestik.

Sementara itu, bencana terburuk yang terjadi di Estadio Nacional Peru yang menewaskan total 328 nyawa pada tahun 1964 itu membuat pemerintah membuat keputusan menurunkan kapasitas stadion.

Lantas mengapa Tragedi Heysel pada tahun 1985 membuat Liverpool dan klub Inggris dicoret dari dari kompetisi UEFA? Hal tersebut lantaran kejadian kelam tersebut terjadi pada laga UEFA yang mempertemukan Liverpool dengan Juventus di Brussels, Belgia pada 29 Mei 1985.

Juga, FIFA melarang Estadio Doroteo Guamuch Flores di Guatemala menggelar laga internasional selama dua tahun akibat tragedi yang terjadi saat laga Kualifikasi Piala Dunia 1998 antara Guatemala vs Kosta Rika.

Semoga saja Tragedi Kanjuruhan Malang ini bisa menjadi awal untuk revolusi sepak bola Indonesia khususnya mengenai stadion. Sama seperti yang terjadi di Stadion Ibrox dan Hillsborough yang menjadi tonggak perbaikan aturan stadion.

Saat ini kompetisi domestik Indonesia pun dihentikan sementara selama dua pekan untuk masa investigasi proses tragedi Kanjuruhan. Semoga perisitiwa duka Indonesia di mata dunia ini menjadi kali terakhir terjadi yang melukai setiap insan pecinta sepak bola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.