FAI: Bulan Solidaritas Palestina Wujud Konsistensi Dukungan Indonesia

Avatar photo
FAI: Bulan Solidaritas Palestina Wujud Konsistensi Dukungan Indonesia
Wartawan Senior Aat Surya Safaat tampil sebagai salah satu pembicara pada talkshow tentang Palestina di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu, 15 November 2025 (Foto: Dok. AWG)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Penasihat Forum Akademisi Indonesia (FAI) Aat Surya Safaat menyatakan bahwa penyelenggaraan Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2025 oleh Aqsa Working Group (AWG) merupakan wujud konsistensi dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina. Menurut Aat, agenda tahunan AWG itu dinilainya sebagai bentuk kampanye moral dan politik terhadap tindakan Zionis Israel yang hingga kini masih melakukan pelanggaran kemanusiaan di Palestina.

“BSP yang digelar AWG ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi bentuk penguatan dukungan politik dan kemanusiaan bangsa Indonesia kepada Palestina, sebagaimana diwariskan para pemimpin nasional sejak era Soekarno,” ujar Aat dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/11/2025).

Aat mengutip pernyataan Ketua Presidium AWG Muhammad Anshorullah bahwa bulan November memiliki kedudukan khusus dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Palestina. Setidaknya terdapat lima peristiwa penting yang terjadi pada bulan tersebut, yakni Deklarasi Balfour (1917), wafatnya Yasser Arafat (2004), Deklarasi Kemerdekaan Palestina di Aljazair (1988), wafatnya tokoh perlawanan Izzuddin Al-Qassam (1935), serta partition plan Palestina oleh PBB pada 29 November 1947 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Palestina.

BACA JUGA  BSP 2024, Daurah Akbar Internasional Hadirkan Pakar Baitul Maqdis Asal Palestina

Pada tahun ini, BSP mengusung tema “Bergerak berjemaah, bangun kembali Gaza demi pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.” Menurut Aat, tema tersebut menjadi panggilan sejarah untuk menjaga dan menumbuhkan kesadaran publik atas pentingnya perlawanan terhadap penjajahan Zionis Israel.

BSP 2025 juga merupakan bagian dari gerakan pembelaan global masyarakat sipil terhadap Palestina, yang kini diekspresikan berbagai bangsa tanpa memandang agama, ras, atau latar belakang.

Sepanjang November 2025, AWG bersama jaringan dan mitra nasional menggelar beragam kegiatan untuk menggugah kesadaran publik mengenai pentingnya pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.

Kegiatan itu mencakup edukasi, aksi sosial, hingga mobilisasi massa. Sejumlah agenda utama antara lain pengibaran bendera Palestina dan Indonesia di 23 gunung di seluruh Indonesia, aksi di Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam, expo Palestina dan bedah buku di Taman Ismail Marzuki (TIM), Festival Baitul Maqdis, serta kuliah umum dan talkshow bertema Palestina.

Second Track Diplomacy

Pada bagian lain, Aat menegaskan bahwa AWG telah menjalankan peran penting dalam diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) untuk pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina selama 17 tahun sejak berdiri. Sementara diplomasi jalur pertama (first track diplomacy) tetap dilaksanakan pemerintah.

BACA JUGA  Diingatkan Tak Bakar Sembarangan, BMKG Deteksi 236 Titik Panas di Kaltim

Menurut Aat, diplomasi jalur pertama yang hanya melibatkan pemerintah tidak selalu cukup efektif dalam penyampaian pesan diplomasi ke negara lain, termasuk komunitas internasional. Karena itu, diplomasi jalur kedua yang melibatkan publik menjadi pelengkap penting bagi diplomasi tradisional.

“Maka, aktivitas diplomasi melalui second track diplomacy yang melibatkan peran publik sangat dibutuhkan dalam melengkapi diplomasi yang hanya dilakukan pemerintah,” ujar Aat, yang pernah menjabat Kepala Biro ANTARA New York (1993-1998).

Aat, yang juga Direktur Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen aktivitas AWG berfokus pada edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pembebasan Masjid Al-Aqsa serta perjuangan kemerdekaan Palestina di berbagai forum.

“Dan perjuangan kemerdekaan Palestina di berbagai forum. Sisanya, sekitar 20 persen, merupakan kegiatan penggalangan dana (fundraising),” kata Direktur Pemberitaan ANTARA (2016) kelahiran Pandeglang itu, yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan terkait perjuangan Palestina di Indonesia.

BACA JUGA  Muhammad Rifqi Terhenti Karena Kapalan

Dalam kerangka diplomasi jalur kedua itu pula, AWG di bawah naungan Pesantren Al-Fatah bersama Lembaga Medis dan Kemanusiaan MER-C serta Maemuna Center Indonesia menginisiasi pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza City, Palestina.

AWG sendiri dibentuk di Jakarta pada 21 Agustus 2008 untuk mewadahi dan mengelola upaya masyarakat Muslim Indonesia dalam membantu pembebasan Masjid Al-Aqsa serta perjuangan rakyat Palestina secara moral dan politik.(rkm)