Abah Anton Charliyan Terima Anugerah Sriraksa Kalpa Budaya sebagai Pelestari Budaya Nusantara

Avatar photo
Abah Anton Charliyan Terima Anugerah Sriraksa Kalpa Budaya sebagai Pelestari Budaya Nusantara
Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., atau yang akrab disapa Abah Anton Charliyan menerima Anugerah Kehormatan Sriraksa Kalpa Budaya dari Madukara atas dedikasinya dalam pelestarian budaya Nusantara.(Foto: istimewa)

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Madukara dan Keraton Amarta Bumi atas kepercayaan yang diberikan. Semoga saya dapat terus mengabdikan diri dalam upaya pelestarian seni dan budaya Nusantara.”

SEMARANG, SUDUTPANDANG.ID – Tokoh pelestari budaya Sunda, Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., yang akrab disapa Abah Anton Charliyan, menerima Anugerah Kehormatan Sriraksa Kalpa Budaya sebagai Pelestari Budaya Nusantara dari Majelis Adat Budaya Keraton Nusantara (Madukara) atas kiprah dan dedikasinya dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya Indonesia.

Dalam keterangan tertulis, Senin (29/12/2025), Anugerah Kehormatan Sriraksa Kalpa Budaya ini diserahkan kepada Abah Anton Charliyan dalam rangkaian Gelar Budaya Segoro Gunung ke-IX yang digelar di Balai Agung Keraton Amarta Bumi, Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (27/12/2025).

Penghargaan disampaikan langsung oleh Ketua Umum Madukara, SA Prabu Punto Djoyonegoro, didampingi Sultan Indra Usman dari Kesultanan Indrapura, Sumatera Barat, serta Raja Anak Agung Ngurah Putra Darma selaku Penglingsir Puri Bali.

BACA JUGA  Proyek Rumah Mewah Berujung ke Meja Hijau, Kontraktor Diadili di PN Jakarta Timur

Selain Abah Anton Charliyan, Madukara juga menganugerahkan penghargaan serupa kepada sejumlah tokoh nasional. Mereka antara lain Mayjen TNI Rido Hermawan, Mayjen TNI Rionardo, Laksda TNI Ganda Wilaga, Laksda TNI Eddy Tarjono dari Lemhannas, Prof. Dr. Dewi Anggraeni selaku Wakil Rektor IV Universitas Pamulang (Unpam), Rd. Dicky Sastradikusuma dari Sukapura, serta Kombes Pol. Dinnar Widargo, S.I.K, M.M., dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten.

Kiprah Abah Anton Charliyan

Madukara menilai Abah Anton sebagai figur yang memiliki rekam jejak panjang dan konsisten dalam pelestarian budaya, khususnya budaya Sunda, sejak masih aktif sebagai perwira tinggi Polri hingga purnatugas. Semasa menjabat Kapolwil Priangan pada 2008 hingga Kapolda Jawa Barat pada 2016-2017, ia dikenal aktif menggagas serta mendukung berbagai program kebudayaan dan pelindungan situs sejarah.

Sejumlah inisiatif yang pernah digagas Abah Anton antara lain pendirian Tugu Kujang Pusaka setinggi 15 meter di Kampung Adat Naga, Tasikmalaya, serta penggagasan Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat. Ia juga mendorong penggunaan Aksara Sunda Kaganga pada papan nama satuan kepolisian di wilayah Priangan.

BACA JUGA  Pemkot Bekasi Raih Penghargaan Pelayanan Publik 2025 dengan Predikat Tertinggi dari Kemenpan RB

Selain itu, Abah Anton terlibat dalam pembinaan kampung adat Naga, Dukuh, dan Kuta, mendirikan Padepokan dan Museum Pasulukan Lokaganda Sasmita di Garut, serta berperan dalam pengamanan dan pelindungan berbagai situs sejarah dan museum di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Ia juga menginisiasi pembangunan Museum Galunggung di Tasikmalaya.

Di bidang pendidikan budaya, Abah Anton turut menyusun pedoman penulisan Aksara Sunda Kaganga, menyelenggarakan pelatihan bagi guru sekolah dasar dan menengah pertama, serta menulis sejumlah buku tentang sejarah dan budaya Sunda.

Madukara menyatakan bahwa anugerah tersebut diberikan melalui proses kajian mendalam dan tidak didasarkan pada jabatan atau pangkat, melainkan atas kontribusi nyata dalam pelestarian seni, budaya, dan sejarah Nusantara.

Apresiasi Penerima Penghargaan

Dalam keterangannya kepada awak media, Abah Anton menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang diterimanya.

BACA JUGA  Pemkot Jakbar Memitigasi Risiko Sekolah di Kolong Jalan Tol

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Madukara dan Keraton Amarta Bumi atas kepercayaan yang diberikan. Semoga saya dapat terus mengabdikan diri dalam upaya pelestarian seni dan budaya Nusantara,” ucap budayawan Sunda alumnus Akpol 1984 itu.

Acara tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kendal dan Kota Semarang, serta perwakilan trah Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, dan Keraton Sumenep, Madura serta para budayawan Nusantara lainnya. Prosesi berlangsung khidmat dalam suasana kekeluargaan.(PR/01)