Belajar dari Kimchi dan Salmon: Mencari Jati Diri Pendidikan Kita

Kimchi
Kemal H. Simanjuntak adalah konsultan manajemen, GRC expert dan pengamat keuangan (Foto: SP)

“Fenomena “Kimchi”, Korea Selatan. Secara sosiologis, keberhasilan Korea didukung oleh teori Konfusianisme yang menempatkan pendidikan sebagai martabat tertinggi dan alat mobilitas vertikal”

Oleh: Dr. Kemal H Simanjuntak, MBA

Dalam diskursus pendidikan global, terdapat dua kutub ekstrem yang sama-sama mencapai puncak prestasi: Korea Selatan dan Finlandia. Yang satu ibarat kamp pelatihan militer yang presisi, satunya lagi menyerupai laboratorium kreativitas yang kontemplatif.

Namun, bagi Indonesia yang sedang berakselerasi keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap), terdapat argumen kuat bahwa DNA bangsa ini lebih membutuhkan disiplin baja ala Asia Timur daripada fleksibilitas Skandinavia.

Mari membedah fenomena “Kimchi”, Korea Selatan. Secara sosiologis, keberhasilan Korea didukung oleh teori Konfusianisme yang menempatkan pendidikan sebagai martabat tertinggi dan alat mobilitas vertikal. Di sana, pendidikan adalah pertarungan gladiator yang didorong oleh academic stress yang tinggi.

Namun, jika ditinjau dari Teori Determinisme Lingkungan, tekanan eksternal yang masif terbukti mampu menciptakan daya tahan (resilience) dan etos kerja yang luar biasa. Interaksi sosial siswa Korea terbangun melalui konsep shared struggle sebuah solidaritas kolektif yang lahir dari perjuangan bersama menaklukkan ujian nasional.

BACA JUGA  Putu Jayan Danu Putra, Kapolda Bali Segudang Prestasi

Di kutub lain, “Salmon” Finlandia beroperasi di atas Teori Konstruktivisme dan Humanisme, di mana siswa membangun pengetahuan secara mandiri dalam lingkungan minim tekanan. Sistem ini bekerja secara organik di Finlandia karena didukung oleh indeks kesejahteraan sosial yang mapan dan populasi yang homogen.

Namun, menerapkan model ini di Indonesia tanpa fondasi integritas yang kuat berisiko memicu degradasi standar kualitas. Tanpa pengawasan ketat, kebebasan pendidikan cenderung berubah menjadi pengabaian tanggung jawab.

Secara objektif, Indonesia menunjukkan kecocokan yang lebih besar dengan model Korea Selatan. Prinsip disiplin ketat dan tanggung jawab moral harus ditanamkan sebagai fondasi utama karakter.

Sesuai dengan Teori Pembiasaan (Behaviorisme) dari B.F. Skinner, penguatan perilaku melalui disiplin yang konsisten sangat diperlukan untuk membentuk SDM yang kompetitif.

BACA JUGA  Seolah-olah: Negara yang Sibuk Mengelola Kertas Bukan Risiko

Di tengah tantangan transformasi digital dan Agentic AI, mentalitas instan adalah ancaman nyata yang hanya bisa diredam dengan ketangguhan mental.
Modal sosial Indonesia yang sangat kuat budaya guyub dan gotong royong merupakan katalis yang sempurna jika dipadukan dengan disiplin Korea.

Jika energi sosial ini dikonversi menjadi kelompok belajar yang kompetitif namun suportif, Indonesia akan memiliki mesin produktivitas yang masif. Pendidikan bukan sekadar soal transfer materi, melainkan soal metodologi belajar yang menuntut ketangguhan.

Dari perspektif Governance, Risk, and Compliance (GRC), risiko burnout memang patut diwaspadai, namun risiko membiarkan generasi muda tumbuh tanpa disiplin yang terukur jauh lebih berbahaya bagi kedaulatan bangsa dalam jangka panjang. Untuk mencetak berlian, tekanan tinggi adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

BACA JUGA  Catatan Akhir Tahun 2022 PWI Pusat

Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai melalui proses yang sekadar nyaman. Dibutuhkan sistem yang menyadari bahwa disiplin yang mendarah daging dan interaksi sosial yang berorientasi pada hasil adalah kunci utama. Mungkin, sedikit rasa “pedas” Kimchi dan ketegasan Asia jauh lebih esensial bagi pembangunan manusia Indonesia saat ini daripada lembutnya daging Salmon yang bebas tanpa batas.

Penulis Kemal H. Simanjuntak adalah konsultan manajemen, GRC expert dan pengamat keuangan