“Bagi Mulyadi Jayabaya, kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian untuk tetap hadir di tengah rakyat, bahkan ketika kekuasaan telah usai.”
Oleh Uten Sutendy (Budayawan Banten)
Bicaranya tegas. Nadanya mantap, tanpa berputar-putar. Wibawanya terasa, namun tidak pernah menciptakan jarak. Di hadapan rakyat kecil, ia bukan sosok yang harus ditakuti, melainkan tempat bertanya dan berharap. Begitulah Mulyadi Jayabaya atau yang lebih akrab disapa JB, figur pemimpin yang kehadirannya selalu diingat masyarakat Lebak, bahkan jauh setelah ia tak lagi duduk di kursi kekuasaan. Ada yang biasa memanggilnya Pak Haji JB.
Di banyak daerah, kekuasaan sering kali melahirkan sekat. Tetapi pada Mulyadi Jayabaya, kekuasaan justru menjadi jembatan. Jembatan antara negara dan rakyatnya. Antara kebijakan dan kebutuhan nyata di lapangan. Ketika masyarakat datang dengan persoalan, entah soal tanah, kesehatan, pendidikan, atau sekadar kebutuhan mendesak, JB dikenal sebagai sosok yang tak banyak bertanya, apalagi menunda. “Kalau bisa dibantu hari ini, kenapa harus besok?” menjadi semacam prinsip tak tertulis yang melekat kuat pada dirinya.
Ketegasan Mulyadi Jayabaya bukanlah ketegasan yang meledak-ledak. Ia hadir dalam keputusan yang konsisten dan sikap yang tidak abu-abu. Dalam birokrasi, ia dikenal keras pada aturan dan target. Pada aparat yang lalai, ia bisa sangat tegas. Namun ketegasan itu selalu memiliki arah: pelayanan publik harus berjalan, dan rakyat tidak boleh menjadi korban dari lambannya sistem.
Bagi para bawahannya, Mulyadi Jayabaya adalah pemimpin yang sulit ditawar soal disiplin. Tapi justru di situlah letak wibawanya. Ia tidak membangun rasa takut, melainkan rasa hormat. Aparat bekerja bukan karena takut dimarahi, tetapi karena tahu pemimpinnya bekerja lebih keras dari mereka.
Salah satu kekuatan utama Mulyadi Jayabaya adalah kehadirannya. Ia tidak memimpin dari balik meja semata. Turun ke kampung-kampung, masuk ke pelosok Lebak, berbincang langsung dengan petani, nelayan, pedagang kecil, hingga tokoh adat dan ulama, menjadi bagian dari kesehariannya selama menjabat Bupati Lebak dua periode (2003-2013).
Dalam banyak kisah warga, Mulyadi Jayabaya tidak datang sebagai pejabat yang harus disambut secara protokoler. Ia bisa duduk di tikar, makan sederhana bersama warga, dan mendengarkan keluhan tanpa jamuan resmi. Kehadiran seperti inilah yang membuatnya tidak sekadar dikenal, tetapi dirasakan.
Bantuan yang diberikan Mulyadi Jayabaya sering kali tidak melalui jalur formal yang berbelit. Ketika ada warga sakit dan tak mampu berobat, ia turun tangan. Ketika ada keluarga yang tertimpa musibah, ia hadir dengan solusi, bukan sekadar ucapan. Banyak bantuan itu dilakukan tanpa publikasi, tanpa kamera, tanpa siaran pers.
Bagi Mulyadi Jayabaya, membantu bukan soal pencitraan politik, melainkan refleksi nilai hidup. Nilai bahwa pemimpin tidak boleh tuli terhadap penderitaan rakyatnya. Sikap inilah yang membuat namanya terus hidup dalam ingatan masyarakat, bahkan setelah masa jabatannya berakhir.
Sebagai putra daerah Banten, Mulyadi Jayabaya memahami betul karakter masyarakatnya: keras di luar, lembut di dalam; menjunjung harga diri, tetapi sangat menghormati ketulusan. Ia tahu kapan harus bicara lugas, kapan harus menggunakan bahasa kultural. Relasinya dengan tokoh adat, ulama, dan jawara dibangun atas dasar saling menghormati, bukan dominasi sepihak.
Dalam konteks ini, Mulyadi Jayabaya bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga pemimpin sosial dan kultural. Ia mampu membaca denyut nadi masyarakat Lebak yang tidak selalu bisa diukur dengan angka statistik.
Di usia 68 tahun, Mulyadi Jayabaya justru menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal masa pensiun. Ia tetap hadir di tengah rakyat, menyapa dengan ketulusan, membantu tanpa pamrih, dan bergerak tanpa harus selalu disorot kamera.
Bagi sebagian orang, usia senja adalah waktu untuk beristirahat. Namun bagi Mulyadi Jayabaya, usia adalah pengingat tanggung jawab, bukan alasan untuk berhenti.
Mengabdi Tanpa Jabatan
Sejak tak lagi menjabat sebagai Bupati Lebak, Mulyadi Jayabaya memilih jalan yang sunyi namun bermakna: tetap bersama rakyat. Tidak ada baliho, tidak ada spanduk, apalagi agenda politik terselubung. Yang ada hanyalah kehadiran nyata datang saat warga butuh, pulang setelah masalah terurai.
Ia hadir di acara keagamaan, menyambangi tokoh adat, menghadiri musyawarah kampung, hingga ikut menyelesaikan persoalan sosial yang kerap luput dari perhatian birokrasi. Dari urusan pendidikan anak-anak kurang mampu, bantuan bagi warga sakit, hingga mendukung kegiatan pemuda dan pesantren, Mulyadi Jayabaya hadir sebagai figur pengayom, bukan pejabat.
“Kalau rakyat datang ke rumah, masa saya tutup pintu,” begitu prinsip hidup yang masih ia pegang teguh.
Yang membuat Mulyadi Jayabaya berbeda adalah kedekatan emosionalnya dengan masyarakat. Ia tidak sekadar dikenal, tetapi diingat. Warga Lebak mengenalnya bukan karena jabatan, melainkan karena rekam jejak kepedulian yang konsisten.
Di usia 68 tahun, ia masih hafal nama-nama tokoh kampung, masih ingat persoalan lama yang pernah ia bantu selesaikan, dan masih menanyakan kabar keluarga warga yang pernah ia temui puluhan tahun lalu. Hubungan ini bukan relasi formal, melainkan ikatan batin.
Tak jarang, warga datang bukan untuk meminta bantuan materi, tetapi sekadar berdiskusi, meminta nasihat, atau mencurahkan keresahan. Mulyadi Jayabaya mendengarkan dengan sabar, tanpa menggurui.
Meski dikenal tegas dan berwibawa, Mulyadi Jayabaya bukan sosok yang menciptakan jarak. Justru ketegasannya lahir dari kepedulian, bukan dari keinginan untuk ditakuti.
Dalam berbagai kegiatan sosial, ia kerap mengingatkan pentingnya disiplin, kerja keras, dan gotong royong. Namun pesan-pesan itu disampaikan dengan bahasa rakyat, lugas, membumi, dan mudah dipahami. “Kalau pemimpin hanya bisa marah tapi tidak memberi contoh, itu bukan pemimpin,” ujarnya suatu ketika.
Keteladanan inilah yang membuat pengaruh Mulyadi Jayabaya tetap kuat, bahkan tanpa struktur kekuasaan.
Di usia yang tidak lagi muda, Mulyadi Jayabaya justru memberi perhatian besar pada generasi muda. Ia mendorong anak-anak muda Lebak untuk berani bermimpi, berpendidikan, dan tidak tercerabut dari nilai budaya serta kearifan lokal.
Ia mendukung kegiatan kepemudaan, olahraga, seni budaya, dan keagamaan sebagai benteng moral generasi penerus. Bagi Mulyadi Jayabaya, masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi oleh karakter manusianya.
“Anak muda harus pintar, tapi juga berakhlak,” adalah pesan yang kerap ia sampaikan.
Apa yang dilakukan Mulyadi Jayabaya di usia 68 tahun sejatinya adalah refleksi dari jalan hidupnya. Mengabdi bukan fase, melainkan identitas. Tidak bergantung pada jabatan, tidak menunggu momentum politik.
Ia telah membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak berakhir ketika masa jabatan usai. Justru di luar kekuasaan formal, nilai kepemimpinan itu diuji: apakah masih peduli, masih mau mendengar, dan masih bersedia turun tangan?.
Jawaban Mulyadi Jayabaya jelas, ia masih ada, masih bergerak, dan masih mengabdi.
Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh pencitraan, sosok Mulyadi Jayabaya tampil sebagai pengingat pentingnya ketulusan. Di usia 68 tahun, ia tidak mengejar sorotan, tetapi memilih kebermanfaatan.
Bagi masyarakat Lebak, Mulyadi Jayabaya bukan sekadar mantan bupati. Ia adalah figur ayah, tokoh panutan, dan penjaga nilai-nilai kebersamaan. Selama masih diberi kesehatan, selama masih ada rakyat yang membutuhkan, Mulyadi Jayabaya akan terus hadir, tenang, konsisten, dan setia pada jalan pengabdian.
Tempaan Hidup dari Keluarga Sederhana
Mulyadi Jayabaya lahir di Kabupaten Lebak, Banten, pada 22 Maret 1957. Ia tumbuh di sebuah lingkungan yang jauh dari kemewahan, di tengah keluarga sederhana yang mengajarkan satu nilai utama sejak dini: kerja keras adalah satu-satunya jalan untuk bertahan dan bermartabat. Lebak pada masa itu masih didominasi kehidupan agraris, dengan keterbatasan akses pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur. Dari tanah inilah karakter Mulyadi Jayabaya ditempa, keras, tegas, namun berakar kuat pada nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
Sejak kecil, Mulyadi Jayabaya sudah akrab dengan kehidupan rakyat kebanyakan. Ia melihat langsung bagaimana orang tuanya dan warga sekitar harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada jalan pintas, tidak ada kemudahan. Semua dicapai dengan keringat dan ketekunan. Pengalaman hidup inilah yang kelak membentuk kepekaannya terhadap penderitaan orang lain. Ia tumbuh bukan sebagai anak yang dimanjakan keadaan, melainkan sebagai pribadi yang terbiasa menghadapi kenyataan hidup apa adanya.
Keluarga menjadi sekolah pertama bagi Mulyadi Jayabaya. Dalam keluarga sederhana itu, ia belajar arti tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian mengambil keputusan. Kesederhanaan tidak membuatnya minder, justru menumbuhkan ambisi untuk keluar dari keterbatasan tanpa meninggalkan jati diri. Ia memahami betul rasanya kekurangan, sehingga kelak ketika berada di posisi atas, ia tidak lupa bagaimana rasanya berada di bawah.
Mulyadi Jayabaya muda dikenal sebagai pribadi yang lugas dan pekerja keras. Ia tidak banyak bicara, tetapi konsisten dalam tindakan. Lingkungan Lebak yang keras menuntut setiap orang untuk tangguh. Dari situ pula muncul karakter kepemimpinan alaminya tidak mudah goyah, berani mengambil risiko, dan mampu berdiri di depan saat orang lain ragu melangkah.
Perjalanan hidup Mulyadi Jayabaya tidak pernah instan. Ia meniti karier dari bawah, merasakan jatuh bangun dunia usaha, hingga akhirnya dikenal sebagai wirausahawan sukses. Keberhasilan tersebut tidak membuatnya berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, ia justru semakin dekat dengan rakyat kecil. Ia memahami bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang sejauh mana keberhasilan itu membawa manfaat bagi orang lain.
Perjalanan Awal Dunia Usaha
Mulyadi Jayabaya memulai bisnisnya sebagai penjual ikan asin keliling. Setiap pagi, ia memulai harinya dengan memanggul ikan asin. Bau asin yang menusuk, panas matahari yang menyengat, dan jalanan panjang yang harus ditempuh menjadi teman setia perjuangannya. Puluhan kilometer ia lalui, mengetuk pintu rumah warga, menyapa calon pembeli dengan kesederhanaan dan harapan.
Hasilnya tidak selalu sebanding dengan tenaga. Ada hari-hari ketika dagangan tidak habis. Ada masa ketika uang yang dibawa pulang nyaris tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, dari situlah ia belajar tentang arti kesabaran, kejujuran, dan keberanian menghadapi kerasnya hidup.
Menjual ikan asin bukan hanya soal berdagang, tetapi juga soal bertahan hidup dengan martabat.
Seiring waktu, Mulyadi Jayabaya tidak berhenti pada satu titik. Setelah menjual ikan asin, ia mencoba berbagai pekerjaan lain: menjadi kenek, sopir, hingga pekerja kasar. Namun, jiwa dagangnya sudah tumbuh sejak ikan asin itu.
Ia mulai melihat peluang, memahami kebutuhan orang, dan belajar mengelola uang sekecil apa pun. Setiap rupiah hasil menjual ikan asin bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga modal mimpi-mimpi untuk suatu hari berdiri sejajar dengan para pelaku usaha besar.
Perjalanan dari bawah ini membentuk mentalitasnya: tidak gengsi memulai dari kecil, tidak takut bekerja keras, dan tidak cepat menyerah.
Bagi Mulyadi Jayabaya, ikan asin bukan sekadar komoditas dagang masa lalu. Ia adalah simbol perjuangan. Simbol tentang bagaimana hidup dapat berubah sejauh seseorang mau bekerja keras dan tidak malu memulai dari bawah.
Dari ikan asin, ia belajar bahwa: “Kesuksesan besar sering kali dimulai dari pekerjaan yang dianggap kecil.”
Prinsip itu ia pegang sepanjang hidupnya. Bahkan ketika sudah berada di puncak, ia tidak pernah menutup-nutupi masa lalunya. Sebaliknya, ia menjadikannya sumber inspirasi bagi generasi muda.
Setelah jualan ikan asin, Mulyadi Jayabaya mulai usaha dalam skala sangat kecil. Modal terbatas, peralatan sederhana, dan pasar yang tidak menentu adalah keseharian yang harus dihadapi. Tidak ada konsep bisnis modern, tidak ada laporan keuangan rapi, yang ada hanyalah kerja keras, kejujuran, dan keberanian mengambil risiko.
Setiap rupiah keuntungan tidak dihabiskan, tetapi diputar kembali. Prinsipnya sederhana: usaha harus tumbuh meski pelan. Jayabaya memahami betul bahwa usaha kecil tidak akan naik kelas jika pemiliknya cepat puas.
Transisi dari usaha kecil ke menengah tidak terjadi tiba-tiba. Ia datang melalui keputusan berani: memperbesar skala usaha, menambah modal, dan mengambil risiko lebih besar.
Mulyadi Jayabaya mulai berpikir melampaui sekadar bertahan hidup. Ia membaca perubahan di sekitarnya, khususnya pertumbuhan pembangunan fisik di Lebak dan sekitarnya. Jalan, rumah, gedung, dan fasilitas umum mulai bermunculan. Di sanalah ia melihat satu benang merah: kebutuhan material bangunan akan terus meningkat.
Sementara banyak orang masih ragu, Mulyadi Jayabaya memilih melangkah.
Keputusan masuk ke bisnis material bangunan bukanlah langkah spekulatif. Itu adalah hasil pengamatan panjang terhadap denyut ekonomi masyarakat.
Bisnis material bangunan memiliki karakter berbeda. Modal lebih besar, manajemen stok lebih kompleks, dan persaingan lebih ketat. Namun Jayabaya memahami satu hal penting: selama orang membangun, material akan selalu dicari.
Ia memulai dari skala menengah, bukan langsung besar. Gudang sederhana, jenis material yang terbatas, dan pelayanan langsung kepada masyarakat menjadi ciri awal usahanya di sektor ini.
Membangun Jaringan dan Kepercayaan
Masuk ke dunia material bangunan memperluas jejaring Jayabaya. Ia berhubungan dengan tukang bangunan, kontraktor lokal, pengembang perumahan kecil dan masyarakat umum.
Keunggulannya bukan hanya pada harga, tetapi kepercayaan. Barang datang tepat waktu, kualitas sesuai, dan komunikasi terbuka. Dalam bisnis material, reputasi adalah segalanya. Sekali mengecewakan, pelanggan bisa pergi selamanya.
Jayabaya menjaga itu dengan disiplin. Ia sadar, usaha menengah tidak bisa dikelola dengan pola usaha kecil. Manajemen mulai diperbaiki, tenaga kerja ditambah, dan sistem mulai dibangun, meski masih sederhana.
Dalam setiap fase transisi, satu prinsip selalu dipegang Mulyadi Jayabaya: Usaha yang baik adalah usaha yang tumbuh bersama lingkungan sekitarnya.
Ia tidak memisahkan keberhasilan pribadi dengan kesejahteraan masyarakat. Pengalaman merintis dari nol membuatnya paham bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal angka, tetapi tentang dampak.
Memasuki dekade 1990-an, Mulyadi Jayabaya membaca satu hal penting. Lebak membutuhkan pelaku usaha lokal yang berani masuk ke sektor strategis. Saat banyak pengusaha besar datang dari luar daerah, JB memilih berdiri dari dalam membangun bisnis dengan memanfaatkan potensi lokal, tenaga kerja lokal, dan kebutuhan riil masyarakat.
Tahun 1993, ia mendirikan PT Cipadang Jayabaya Putra Utama. Inilah batu pertama dari bangunan besar yang kelak tumbuh menjadi imperium usaha. Perusahaan ini bergerak di sektor yang bersentuhan langsung dengan pembangunan dan distribusi material, sektor vital bagi daerah yang sedang bertumbuh.
Dua tahun berselang, tepatnya 1995, JB kembali memperluas sayap bisnisnya dengan mendirikan PT Giri Jaya Putra. Langkah ini menunjukkan satu karakter khasnya: tidak puas berhenti di satu lini usaha, tetapi terus melakukan diversifikasi dengan perhitungan matang.
Waktu berjalan, Lebak dan Banten mengalami geliat pembangunan yang semakin terasa. JB tidak sekadar menjadi penonton. Ia kembali mengambil peran aktif dengan mendirikan CV Bintang Wifar pada tahun 2008. Perusahaan ini hadir di tengah kebutuhan akan suplai material dan jasa pendukung pembangunan yang semakin meningkat.
Namun puncak ekspansi usaha Mulyadi Jayabaya terjadi pada tahun 2014, ketika dua perusahaan strategis berdiri hampir bersamaan: PT Mulya Kuarsa Anugrah dan PT Mulya Gemilang Beton.
Kedua perusahaan ini menegaskan posisi Mulyadi Jayabaya sebagai pelaku utama di sektor material bangunan, khususnya yang berkaitan dengan kuarsa, beton, dan bahan konstruksi strategis. Di sinilah imperium usaha itu terlihat jelas: terintegrasi, saling menopang, dan berbasis kebutuhan nyata pembangunan daerah.
Yang membedakan Mulyadi Jayabaya dari banyak pengusaha lainnya adalah cara ia memposisikan diri. Ia tidak datang sebagai pemodal yang berjarak dengan masyarakat, melainkan sebagai pengusaha lokal yang tumbuh bersama lingkungannya.
Ribuan tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung pernah dan masih menggantungkan hidup pada perusahaan-perusahaan yang didirikannya. Dari sopir, buruh material, operator alat berat, staf administrasi, hingga tenaga teknis, mayoritas berasal dari masyarakat Lebak dan Banten.
Bagi Mulyadi Jayabaya, menyerap tenaga kerja bukan sekadar kewajiban bisnis, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial. Ia memahami betul bahwa lapangan kerja adalah kebutuhan paling mendasar masyarakat. Usahanya menjadi jawaban konkret atas persoalan pengangguran di daerah.
Dampak ekonomi dari imperium usaha Mulyadi Jayabaya tidak berhenti pada angka neraca perusahaan. Rantai ekonomi yang tercipta jauh lebih luas. Warung makan di sekitar lokasi usaha hidup, transportasi lokal bergerak, pemasok kecil tumbuh, hingga desa-desa sekitar merasakan perputaran uang yang stabil.
Perusahaan-perusahaan Mulyadi Jayabaya juga menjadi penopang pembangunan daerah, menyediakan material untuk infrastruktur, perumahan, dan proyek-proyek strategis lainnya. Dengan demikian, kontribusinya bukan hanya bersifat ekonomi mikro, tetapi juga makro-regional.
Tak berlebihan jika banyak kalangan menyebut Mulyadi Jayabaya sebagai pengusaha yang membangun daerahnya sendiri, bukan mengeruk lalu pergi.
Imperium usaha Mulyadi Jayabaya tidak dibangun dengan ambisi kosong. Ia tumbuh perlahan, berakar kuat, dan berpijak pada realitas sosial masyarakat Lebak. Setiap perusahaan yang berdiri adalah jawaban atas kebutuhan zaman, bukan sekadar ekspansi tanpa arah.
Di tengah derasnya arus kapital besar dan investor luar, Mulyadi Jayabaya membuktikan bahwa pengusaha lokal bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, asal memiliki keberanian, konsistensi, dan komitmen pada masyarakat.
Lebih dari tiga dekade sejak PT Cipadang Jayabaya Putra Utama berdiri, jejak Mulyadi Jayabaya masih terasa kuat. Imperium usahanya bukan sekadar cerita sukses personal, melainkan kisah tentang bagaimana ekonomi daerah bisa tumbuh ketika dipimpin oleh orang yang memahami tanah kelahirannya.
Pemimpin
Langkah awal Mulyadi Jayabaya dalam dunia politik tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau ruang elite kekuasaan. Ia justru berangkat dari lorong-lorong desa, menyatu dengan denyut kehidupan rakyat kecil. Desa Cileles, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, menjadi panggung pertama pengabdian politiknya. Sebuah titik awal yang kelak membentuk watak kepemimpinan Jayabaya hingga dikenal luas sebagai tokoh rakyat Banten.
Ketika Mulyadi Jayabaya dipercaya menjadi Kepala Desa Cileles, ia datang bukan sebagai figur yang berjarak. Ia hadir sebagai bagian dari warga itu sendiri, orang yang memahami betul kesulitan hidup masyarakat desa, karena pernah merasakannya secara langsung.
Cileles pada masa itu masih menghadapi berbagai keterbatasan. Infrastruktur belum memadai, akses ekonomi terbatas, dan pelayanan pemerintahan desa berjalan apa adanya. Jayabaya membaca kondisi itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai panggilan untuk berbuat.
Sebagai kepala desa, ia menempatkan dirinya bukan di atas rakyat, tetapi di tengah-tengah mereka. Kantor desa bukan sekadar ruang administrasi, melainkan tempat warga mengadu, berdiskusi, bahkan berkeluh kesah. Ia dikenal mudah ditemui, cepat merespons, dan tidak bertele-tele dalam mengambil keputusan.
“Kalau rakyat butuh, jangan ditunda,” menjadi prinsip tidak tertulis yang ia terapkan dalam kepemimpinannya.
Gaya kepemimpinan Mulyadi Jayabaya di Desa Cileles sederhana namun kuat: mendengar, hadir, dan bertindak. Ia terbiasa turun langsung ke lapangan, meninjau jalan rusak, menyambangi warga sakit, hingga terlibat dalam musyawarah kampung tanpa protokoler berlebihan.
Kedekatan ini membangun kepercayaan. Warga tidak segan menyampaikan kritik, ide, maupun keluhan. Mulyadi Jayabaya memandang semua itu sebagai energi kepemimpinan, bukan ancaman. Ia percaya, pemimpin yang kuat justru lahir dari keberanian mendengar suara rakyatnya sendiri.
Dalam setiap persoalan desa, ia mengedepankan musyawarah. Keputusan penting tidak diambil sepihak. Tokoh masyarakat, pemuda, dan para sesepuh desa dilibatkan. Dari sinilah muncul rasa memiliki bersama terhadap pembangunan desa.
Apa yang dibangun Jayabaya di Cileles bukan sekadar program fisik, melainkan modal sosial, kepercayaan, solidaritas, dan jaringan kebersamaan. Inilah aset politik paling berharga yang kelak mengantarkannya melangkah lebih jauh.
Modal sosial itu tumbuh karena konsistensi. Mulyadi Jayabaya tidak berubah ketika sudah menjabat. Ia tetap sederhana, tetap terbuka, dan tetap berpihak. Bantuan tidak dibeda-bedakan, pelayanan tidak dipersulit, dan janji tidak diobral.
Dari desa itulah, nama Mulyadi Jayabaya mulai dikenal bukan karena pencitraan, tetapi karena pengalaman nyata warga. Cerita tentang kepemimpinannya menyebar dari mulut ke mulut, dari sawah ke pasar, dari majelis ke warung kopi.
Kepercayaan rakyat Cileles menjadi fondasi awal yang kokoh. Bagi Jayabaya, politik bukan tentang ambisi pribadi, melainkan kelanjutan dari pengabdian. Desa telah mengajarkannya satu hal penting: jika ingin dipercaya rakyat, mulailah dengan melayani mereka tanpa pamrih.
Kepemimpinan di Desa Cileles menjadi sekolah politik paling berharga bagi Mulyadi Jayabaya. Di sanalah ia belajar bahwa kekuasaan sejati tidak datang dari jabatan, melainkan dari kepercayaan rakyat. Pengalaman ini pula yang membentuk karakter kepemimpinannya di jenjang yang lebih tinggi, tegas, responsif, dan berpihak pada masyarakat kecil.
Dari desa untuk rakyat. Dari bawah untuk pengabdian yang lebih luas. Itulah awal kiprah politik Mulyadi Jayabaya, sebuah perjalanan yang berakar kuat pada tanah dan hati rakyatnya.
Perjalanan Politik Bersama Golkar
Mulyadi Jayabaya telah menautkan perjalanan hidup dan pengabdiannya bersama Partai Golkar sejak tahun 1975. Sebuah pilihan politik yang bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi bagian dari identitas dan jalan pengabdian.Top of Form
Bagi Mulyadi Jayabaya, Golkar menawarkan ruang pengabdian yang selaras dengan nilai-nilai yang ia pegang: kerja nyata, kedekatan dengan rakyat, serta orientasi pada pembangunan jangka panjang. Ia tidak datang sebagai elit, melainkan tumbuh dari bawah, berinteraksi langsung dengan masyarakat desa, memahami denyut persoalan rakyat kecil, dan membangun jejaring sosial berbasis kepercayaan.
Kesetiaan Mulyadi Jayabaya kepada Golkar bukanlah kesetiaan pasif. Ia aktif membesarkan partai di tingkat akar rumput, khususnya di Kabupaten Lebak. Di sinilah Jayabaya dikenal sebagai sosok organisatoris yang kuat, mampu mengonsolidasikan kader, merangkul tokoh masyarakat, dan menjaga soliditas partai di tingkat lokal.
Pengalaman panjang dan kepercayaan kader kemudian mengantarkannya pada posisi strategis sebagai Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Lebak. Jabatan ini bukan sekadar struktur organisasi, tetapi medan pengabdian yang menuntut kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan kecakapan membaca dinamika politik daerah.
Sebagai Wakil Ketua DPD II, Mulyadi Jayabaya memainkan peran penting dalam menyusun strategi pemenangan partai, penguatan basis konstituen, serta kaderisasi. Ia dikenal lugas, tegas, namun tetap membumi, lebih memilih turun langsung ke lapangan ketimbang berpolitik dari balik meja.
Salah satu ciri khas kepemimpinan politik Mulyadi Jayabaya adalah kedekatannya dengan masyarakat. Ia memahami bahwa kekuatan Golkar di daerah tidak hanya bertumpu pada struktur partai, tetapi pada kepercayaan rakyat. Oleh karena itu, Jayabaya kerap hadir dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan, menyatu dengan denyut kehidupan warga Lebak.
Dalam pandangannya, politik bukan sekadar perebutan jabatan, melainkan alat untuk memperjuangkan kesejahteraan. Prinsip inilah yang membuat namanya terus relevan dan diperhitungkan, bahkan setelah dinamika politik nasional mengalami perubahan besar pasca-reformasi.
Tidak banyak politisi yang mampu bertahan dalam satu partai selama hampir setengah abad. Kesetiaan Mulyadi Jayabaya kepada Golkar adalah cerminan konsistensi sikap dan keyakinan politik. Di saat banyak tokoh berpindah kendaraan politik demi kepentingan jangka pendek, Jayabaya memilih tetap berada di jalur yang ia yakini sejak awal.
Kesetiaan itu pula yang membentuk reputasinya sebagai tokoh senior Golkar di Banten, figur yang dihormati bukan hanya karena jabatan, tetapi karena perjalanan panjang dan rekam jejak pengabdian.
Lebih dari sekadar jabatan, perjalanan Mulyadi Jayabaya bersama Golkar meninggalkan warisan politik berupa keteladanan. Ia menunjukkan bahwa politik bisa dijalani dengan kesabaran, loyalitas, dan kerja nyata. Dari tahun 1975 hingga menjabat Wakil Ketua DPD II Golkar Lebak, Jayabaya adalah contoh bagaimana kekuatan politik dibangun dari bawah, dirawat dengan konsistensi, dan dijaga dengan integritas.
Dalam sejarah politik lokal Lebak, nama Mulyadi Jayabaya tidak bisa dilepaskan dari Golkar. Keduanya tumbuh bersama, melewati pasang surut zaman, dan menjadi saksi perjalanan panjang demokrasi Indonesia di tingkat daerah.
Beralih ke PDI Perjuangan di Era Reformasi
Di tengah arus Reformasi, Jayabaya mengambil langkah yang tidak ringan: berpindah ke PDI Perjuangan. Keputusan ini bukan sekadar perpindahan partai, melainkan perubahan haluan politik yang sarat risiko.
Saat itu, PDI Perjuangan identik dengan politik oposisi, nasionalisme kerakyatan, dan keberpihakan pada wong cilik. Partai ini juga membawa simbol ideologis yang kuat melalui figur Megawati Soekarnoputri, yang menjadi ikon perlawanan terhadap status quo Orde Baru.
Bagi Jayabaya, PDI Perjuangan menawarkan lebih dari sekadar kendaraan politik. Ia melihat adanya kesesuaian nilai: politik yang bertumpu pada rakyat, keberanian melawan ketidakadilan struktural, dan keberpihakan pada daerah yang lama terpinggirkan.
“Reformasi itu bukan cuma ganti penguasa, tapi ganti cara berpikir. Politik harus kembali ke rakyat,” menjadi prinsip yang sering dilekatkan pada langkah Jayabaya kala itu.
Awal 2000-an adalah masa penuh tantangan. Partai-partai baru bermunculan, loyalitas pemilih terpecah, dan konflik elite kerap merembes hingga ke tingkat daerah. Di Lebak, PDI Perjuangan belum sepenuhnya mapan secara struktural.
Di sinilah peran Mulyadi Jayabaya menjadi krusial. Ia tidak datang sebagai elite pusat, melainkan sebagai tokoh lokal yang memahami denyut masyarakat. Strategi politiknya sederhana namun efektif: konsolidasi dari bawah.
Ia menyisir desa-desa, merangkul tokoh masyarakat, memperkuat struktur ranting dan anak ranting, serta membangun komunikasi intens dengan kelompok tani, buruh, dan pedagang kecil. Politik baginya bukan panggung pidato, melainkan kerja senyap yang konsisten.
Tahun 2001 menjadi tonggak penting. Mulyadi Jayabaya dipercaya menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lebak. Jabatan ini bukan hadiah, melainkan pengakuan atas kemampuannya mengonsolidasikan partai di tengah situasi politik yang cair dan kompetitif.
Sebagai Ketua DPC, Mulyadi Jayabaya menghadapi dua tantangan utama. Pertama, menjaga soliditas internal partai di tengah rivalitas pasca-Reformasi. Kedua, mengubah PDI Perjuangan menjadi kekuatan elektoral riil di Lebak.
Ia memadukan pendekatan ideologis dan pragmatis. Di satu sisi, ia menanamkan nilai nasionalisme dan kerakyatan ala PDI Perjuangan. Di sisi lain, ia memastikan partai hadir dalam persoalan konkret masyarakat, akses ekonomi, lapangan kerja, dan keadilan pembangunan.
Kepemimpinannya dikenal tegas namun cair. Disiplin partai dijaga, tetapi ruang dialog tetap dibuka. Ini membuat PDI Perjuangan di Lebak tidak hanya menjadi mesin politik, tetapi juga ruang aspirasi rakyat.
Jabatan Ketua DPC menjadi fondasi penting bagi langkah-langkah politik Jayabaya berikutnya. Ia memahami bahwa Reformasi membuka peluang besar bagi daerah untuk menentukan nasibnya sendiri melalui otonomi. Politik tidak lagi berhenti di parlemen, tetapi harus diterjemahkan dalam kebijakan dan kepemimpinan pemerintahan.
Kepemimpinannya di PDI Perjuangan Lebak menjadi batu loncatan menuju peran yang lebih besar, membawa politik kerakyatan dari ruang partai ke ruang kekuasaan daerah.
Bagi Mulyadi Jayabaya, Reformasi bukan tujuan akhir, melainkan jalan panjang. Perpindahannya ke PDI Perjuangan dan kepemimpinannya sebagai Ketua DPC bukan sekadar manuver politik, melainkan bagian dari proses menata ulang relasi kekuasaan antara elite dan rakyat.
Di tengah dinamika politik yang sering kali transaksional, kisah Jayabaya di era Reformasi menunjukkan bahwa politik lokal yang berakar kuat pada rakyat masih memiliki daya tahan. Ia bukan sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi ikut membentuknya, dari Lebak, untuk Indonesia.
Pemilihan Bupati Lebak periode 2003-2008 dilakukan melalui DPRD Kabupaten Lebak, sebuah mekanisme yang menuntut lebih dari sekadar popularitas. Kandidat harus memiliki kekuatan lobi politik, dukungan partai, serta kepercayaan fraksi-fraksi yang duduk di parlemen daerah.
Mulyadi Jayabaya memahami betul peta kekuasaan tersebut. Pengalaman panjangnya di dunia politik, mulai dari Golkar hingga kemudian berlabuh di PDI Perjuangan memberinya modal strategis untuk membangun konsolidasi. Ia bukan figur baru, melainkan tokoh lokal yang telah dikenal luas sebagai mantan kepala desa, pengusaha daerah, dan politisi dengan basis massa riil.
Dalam proses pemilihan di DPRD, Jayabaya memperoleh dukungan signifikan dari partai-partai politik, terutama PDI Perjuangan yang kala itu memiliki pengaruh kuat di parlemen daerah. Dukungan ini tidak berdiri sendiri, melainkan diperkuat oleh komunikasi politik lintas fraksi yang intens.
Mulyadi Jayabaya dikenal piawai membangun dialog politik yang cair. Ia tidak tampil sebagai elite yang berjarak, melainkan sebagai representasi aspirasi masyarakat bawah, petani, pedagang kecil, dan warga desa yang selama ini merasa jauh dari pusat kekuasaan. Narasi inilah yang membuat banyak anggota DPRD melihatnya sebagai figur yang relevan dengan semangat reformasi.
Terpilih sebagai Bupati Lebak (2003–2008)
Melalui mekanisme pemungutan suara di DPRD, Mulyadi Jayabaya akhirnya terpilih sebagai Bupati Lebak periode 2003-2008. Kemenangannya menandai pergeseran penting dalam politik Lebak: dari kepemimpinan yang elitis menuju figur lokal dengan akar sosial kuat.
Kemenangan ini bukan sekadar hasil hitung-hitungan politik, tetapi refleksi dari akumulasi modal sosial yang dibangun Jayabaya sejak lama. Relasinya dengan masyarakat desa, pengusaha lokal, dan tokoh-tokoh informal menjadi faktor penentu yang tak tertulis dalam tata tertib DPRD, namun sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan politik.
Terpilihnya Mulyadi Jayabaya membawa harapan baru bagi Lebak, daerah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan persoalan kemiskinan, keterisolasian wilayah, dan ketimpangan pembangunan. Jayabaya dipandang sebagai pemimpin yang memahami problem struktural daerahnya karena ia sendiri tumbuh dari realitas tersebut.
Gaya kepemimpinannya yang tegas, populis, dan dekat dengan rakyat mulai terbentuk sejak periode ini. Pendopo bukan ia jadikan menara gading, melainkan ruang keputusan yang setidaknya dalam persepsi publik lebih terbuka terhadap suara rakyat.
Pilkada Langsung Kabupaten Lebak tahun 2008 bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan daerah. Ia menjadi panggung pembuktian kekuatan politik seorang Mulyadi Jayabaya figur yang telah lama mengakar dalam struktur kekuasaan lokal. Melalui kemenangan telak bersama pasangannya, Amir Hamzah, Mulyadi Jayabaya menegaskan bahwa demokrasi langsung di Lebak dimulai dengan satu fakta politik penting: dominasi.
Salah satu faktor paling menentukan dalam kemenangan Mulyadi Jayabaya adalah koalisi besar lintas partai yang mengusungnya. Hampir seluruh partai besar saat itu berada di belakang Jayabaya-Amir Hamzah: PDI Perjuangan, Golkar, Demokrat, PKS, PAN, PPP, PKB, hingga PBR.
Koalisi ini bukan sekadar strategi elektoral, tetapi juga sinyal konsensus elite politik lokal. Dengan dukungan hampir menyeluruh, ruang kompetisi bagi kandidat lain menjadi sangat sempit. Pilkada Lebak 2008 sejak awal lebih menyerupai pengukuhan daripada pertarungan terbuka.
Secara formal, KPUD Lebak menetapkan tiga pasangan calon. Namun realitas politik berkata lain. Dua pasangan pesaing Mardini–Wijaya Ganda Sungkawa dan Yas’a Mulyadi–Sudirman menyatakan mundur menjelang hari pencoblosan.
Meski nama mereka tetap tercetak di surat suara karena regulasi, dinamika lapangan menunjukkan bahwa kontestasi telah berakhir bahkan sebelum dimulai. Situasi ini justru mempertebal persepsi publik bahwa kemenangan Jayabaya hampir tak terelakkan.
Pada hari pemungutan suara, partisipasi pemilih mencapai sekitar 68 persen, angka yang cukup signifikan untuk Pilkada langsung pertama di Lebak. Total suara sah tercatat sekitar 560.496 suara.
Hasil perhitungan resmi menunjukkan kemenangan mutlak:
Mulyadi Jayabaya – Amir Hamzah meraih sekitar 360.531 suara atau 64 persen.
Selisih suara dengan kandidat terdekat mencapai hampir dua kali lipat.
Angka ini menegaskan bahwa Jayabaya tidak hanya menang secara administratif, tetapi juga mendapat legitimasi kuat dari pemilih. Kemenangan tersebut menjadi penanda transisi sukses dari kekuasaan berbasis DPRD ke kekuasaan berbasis suara rakyat.
Kemenangan Mulyadi Jayabaya pada Pilkada 2008 memiliki makna berlapis. Pertama, ia memperlihatkan bahwa figur petahana dengan jaringan kuat mampu mendominasi demokrasi langsung. Kedua, kemenangan ini mencerminkan stabilitas politik lokal, karena minim konflik dan gejolak pasca-Pilkada.
Dengan kemenangan tersebut, Mulyadi Jayabaya memasuki periode kedua kepemimpinannya (2008-2013) dengan posisi yang sangat kuat. Dukungan politik di parlemen daerah, legitimasi rakyat, serta kendali atas birokrasi memberi ruang luas bagi konsolidasi kebijakan dan pembangunan.
Pilkada Lebak 2008 menjadi batu pijakan penting bagi Mulyadi Jayabaya dalam membangun pengaruh politik jangka panjang di Lebak. Dari sinilah kekuatan politiknya berkembang dan berkelanjutan, bahkan setelah masa jabatannya berakhir.
Ketika Mulyadi Jayabaya kembali terpilih sebagai Bupati Lebak pada Pilkada langsung 2008, ia memasuki periode kepemimpinan yang tidak lagi sekadar soal legitimasi politik, melainkan pembuktian.
Periode Kedua: Konsolidasi Pembangunan (2008-2013)
Periode 2008-2013 menjadi fase konsolidasi. Jayabaya bukan figur baru; ia sudah memahami betul medan Lebak sejak periode sebelumnya. Karena itu, lima tahun kedua ini dijalankan dengan satu benang merah: membuat pembangunan benar-benar terasa di desa. Bukan slogan, bukan baliho, melainkan perubahan yang bisa disentuh dan dirasakan masyarakat.
Sejak awal masa jabatan, Mulyadi Jayabaya membaca persoalan Lebak secara sederhana namun tajam. Ia meyakini bahwa kemiskinan dan keterbelakangan tidak akan bisa diputus tanpa membuka keterisolasian wilayah. Maka pembangunan infrastruktur jalan ditempatkan sebagai fondasi utama. Bagi Mulyadi Jayabaya, jalan bukan hanya sarana transportasi, tetapi pintu masuk bagi seluruh aspek kehidupan: ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan pemerintahan.
Di bawah kepemimpinannya, pembangunan jalan desa digencarkan hingga ke wilayah-wilayah yang selama bertahun-tahun nyaris terputus dari pusat kecamatan. Jalan tanah diperkeras, ruas penghubung antardesa dibuka, dan akses ke sentra produksi pertanian diperbaiki. Kebijakan ini secara perlahan mengubah ritme hidup masyarakat. Hasil panen tidak lagi terhambat distribusi, anak-anak desa dapat berangkat sekolah tanpa harus berjam-jam berjalan kaki, dan warga lebih mudah menjangkau layanan publik. Pembangunan jalan menjadi simbol paling kasat mata dari era Jayabaya.
Namun Mulyadi Jayabaya memahami bahwa beton dan aspal tidak cukup. Infrastruktur fisik harus dibarengi dengan kehadiran negara dalam layanan dasar, terutama kesehatan. Lebak, dengan bentang geografis yang menantang, membutuhkan pendekatan yang aktif dan jemput bola. Maka pada periode ini, ia mendorong program bidan dan mantri keliling, menghadirkan tenaga kesehatan langsung ke desa-desa terpencil. Negara tidak lagi menunggu warganya datang ke puskesmas, melainkan mendatangi mereka.
Di banyak kampung pedalaman, kehadiran petugas kesehatan menjadi pengalaman pertama warga merasakan pelayanan medis yang rutin dan terstruktur. Pemeriksaan ibu hamil, pemantauan kesehatan balita, hingga edukasi gizi keluarga menjadi bagian dari upaya menurunkan risiko kematian ibu dan bayi. Program ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga soal martabat: memastikan bahwa warga desa memiliki hak yang sama atas pelayanan dasar.
Di sektor pendidikan, Mulyadi Jayabaya menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang. Ia menyadari bahwa Lebak tidak akan bergerak maju tanpa generasi yang lebih terdidik. Karena itu, kebijakan diarahkan pada perluasan akses pendidikan dasar serta penguatan pendidikan keagamaan yang telah mengakar di masyarakat. Sekolah dan madrasah diposisikan sebagai pusat pembentukan karakter sekaligus alat mobilitas sosial.
Pendekatan ini mencerminkan gaya kepemimpinan Mulyadi Jayabaya yang tidak memisahkan modernitas dan tradisi. Ia memahami denyut budaya Lebak sebagai daerah religius, sehingga kebijakan pendidikan tidak dilepaskan dari nilai-nilai lokal. Pemerintah daerah hadir bukan untuk menyeragamkan, tetapi untuk memperkuat yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Seiring dengan itu, Mulyadi Jayabaya juga mulai mendorong pembenahan birokrasi daerah. Melalui penguatan pelayanan terpadu, ia berupaya memotong jarak antara masyarakat dan kantor pemerintahan. Urusan perizinan dan administrasi diarahkan agar lebih sederhana dan mudah diakses, terutama bagi masyarakat desa dan pelaku usaha kecil. Meski perubahan birokrasi tidak selalu berjalan mulus, langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak boleh berjarak dengan rakyatnya.
Dalam praktik kepemimpinan sehari-hari, Mulyadi Jayabaya dikenal sebagai figur yang tegas dan langsung. Ia kerap turun ke lapangan, meninjau proyek, dan berinteraksi dengan warga. Gaya kepemimpinannya kuat, terkadang keras, namun berpijak pada keyakinan bahwa pemimpin daerah harus hadir secara nyata. Pendekatan ini membuatnya memiliki basis dukungan akar rumput yang solid, meski tak luput dari dinamika dan kritik politik.
Warisan Kepemimpinan di Lebak
Menjelang akhir masa jabatan pada 2013, jejak kepemimpinan Jayabaya tertanam dalam ruang hidup masyarakat Lebak. Jalan-jalan desa yang terbuka, layanan kesehatan yang lebih dekat, dan pemerintahan yang aktif menjadi warisan yang paling mudah dikenang. Tidak semua persoalan selesai, dan tidak semua kebijakan sempurna, tetapi arah pembangunan telah berubah.
Periode 2008-2013 di bawah Mulyadi Jayabaya bukanlah kisah tentang pembangunan spektakuler, melainkan tentang kerja yang konsisten dan berpihak pada desa. Ia meletakkan dasar bahwa pembangunan daerah harus dimulai dari membuka akses, mendekatkan layanan, dan memahami realitas masyarakatnya sendiri.
Di Lebak, lima tahun itu dikenang sebagai masa ketika negara tidak lagi terasa jauh. Dan di sanalah, nama Mulyadi Jayabaya menempati ruang tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai pemimpin yang memilih membangun dari pinggiran, dan menjadikan desa sebagai titik tolak perubahan.
*Uten Sutendy adalah Penulis dan Budayawan










