Pentagon Diduga Tutupi Data Korban Serangan Iran

Avatar photo
Pentagon Diduga Tutupi Data Korban Serangan Iran
Tentara AS (Foto: Dok. AP/Ahn Young-joon)

SUDUTPANDANG.ID – Harian The New York Times melaporkan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) diduga tidak mengungkap secara menyeluruh informasi mengenai personel militer AS yang terluka akibat serangan rudal Iran terhadap sejumlah pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.

Mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, laporan tersebut menyebutkan bahwa rentetan serangan rudal balistik Iran ke pangkalan militer AS di Yordania dan beberapa lokasi lain pada pekan lalu menyebabkan puluhan personel militer terluka serta merusak sejumlah helikopter.

Menurut New York Times, Iran juga melancarkan tiga serangan tambahan terhadap pasukan AS di Yordania dalam pekan yang sama.

Namun, laporan itu menyebut Pentagon tidak mempublikasikan secara terbuka rincian serangan maupun jumlah korban dan kerusakan yang ditimbulkan.

BACA JUGA  Diapit JK-Surya Paloh, Kampanye Akbar Anies di Bandung: "Saatnya Menang untuk Perubahan"

Salah seorang pejabat militer AS menyatakan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) tidak memiliki kewajiban untuk mengumumkan setiap kasus personel yang terluka dalam operasi militer.

Sementara itu, pejabat AS lainnya berpendapat bahwa pembatasan informasi tersebut dilakukan demi alasan keamanan operasional.

Menurutnya, publikasi data korban secara rinci dikhawatirkan dapat dimanfaatkan Iran untuk meningkatkan akurasi serangan rudal maupun pesawat nirawak terhadap pasukan AS di kawasan.

New York Times juga menyoroti belum adanya konferensi pers Pentagon yang membahas konflik dengan Iran sejak Mei 2026.

Kondisi tersebut dinilai membuat informasi resmi mengenai perkembangan operasi militer AS menjadi terbatas.

Di sisi lain, CBS News sebelumnya melaporkan bahwa serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania menewaskan dua tentara Amerika Serikat dan menyebabkan satu personel lainnya dinyatakan hilang.

BACA JUGA  China Longgarkan Persyaratan Visa bagi Pleancong AS

Laporan itu juga menyebut seorang tentara AS lainnya tewas dalam insiden terpisah di Irak.

Secara resmi, otoritas militer AS menyatakan sedikitnya 17 personel militer tewas dan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka sejak operasi militer terhadap Iran berlangsung. Namun, jumlah korban luka belum diperbarui dalam beberapa pekan terakhir.

Masih berdasarkan laporan CBS News yang mengutip pejabat AS, hampir 100 personel militer Amerika mengalami luka akibat serangan udara Iran terhadap pangkalan militer di Timur Tengah sepanjang Juli. Sebagian besar di antaranya dilaporkan telah kembali bertugas.

Sementara itu, media The Intercept pada April 2026 melaporkan bahwa pemerintah AS diduga menutupi data korban dengan menyebut jumlah tentara yang tewas maupun terluka mencapai hampir 750 orang.

BACA JUGA  Global Citizenship of Indonesia, Terobosan Imigrasi Jawab Isu Kewarganegaraan Ganda

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi yang dipublikasikan pemerintah.

Hingga kini, Pentagon tetap menegaskan bahwa pertimbangan keamanan operasional menjadi alasan utama pembatasan informasi mengenai perkembangan konflik, termasuk data korban di kalangan personel militer Amerika Serikat.(red)