JOMBANG-JATIM, SUDUTPANDANG.ID – Komisaris Utama (Komut) Bank Syariah Nasional (BSN) Prof Dr Bahrullah Akbar, M.B.A., C.I.P.M., C.S.F.A., C.P.A mengemukakan bahwa perguruan tinggi (PT) harus menjadi penggerak ekosistem halal, baik di Tanah Air maupun global.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi halal global,” katanya dalam adalah “Halaqoh Pendidikan Tinggi NU: Peran Alumni dan PCINU Internasional Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi dan Pengembangan Ekosistem Industri Halal di Indonesia” di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhajirin III, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.
Dalam rangkaian kegiatan yang pararel dengan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, ia menyebut bahwa PT adalah “mesin intelektual ekosistem halal”.
“Mengapa perguruan tinggi adalah mesin intelektual ekosistem halal, karena memiliki sumber daya riset, inovasi, talenta, sertifikasi, kewirausahaan, dan kebijakan berbasis nilai dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peluang besar untuk menjadi pusat ekonomi halal global itu, di antaranya meliputi keuangan syariah, pariwisata halal, logistik halal, ekonomi digital, “modest fashion”, komestik halal, farmasi halal, serta “halal food and beverage”.
Dengan kondisi itu, kata dia, maka PT di Indonesia dapat menjadi PT unggul yang bisa mewujudkan ekosistem halal kuat, sehingga Indonesia bisa berdaya saing global, karena mampu mencetak talenta unggul, mendorong kewirausahaan dan industri halal, dan memperkuat jaringan global.
Kuantitas Menuju Kualitas
Menurut Bahrullah Akbar, Komisaris Utama PT Bank DKI (2022–2025) dan Wakil Ketua BPK RI (2017-2019) itu menyatakan ukuran keberhasilan PT bukan hanya jumlah kelulusan, tetapi seberapa besar dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian.
“Jadi, substansinya adalah dari ‘quantity’ menuju ‘quality’ dan ‘impact’,” katanya.
Ia menegaskan bahwa membangun ekosistem halal berbasis PT kata kuncinya adalah kolaborasi multipihak mewujudkan ekonomi halal Indonesia yang berdaya saing global.
“Jadi, bersinergi menciptakan dampak nyata bagi bangsa dan dunia,” katanya.
Terkait keberadaan PT Nahdlatul Ulama, ia menyebut NU memiliki kekuatan besar ekosistem pendidikannya, yang berakar pada nilai, unggul dalam ilmu, dan berdampak pada peradaban dalam wujud “knowledge talent bussines ecosystem”.
Ia merinci pondok pesantren adalah pusat pembentukan karakter, nilai dan kepemimpinan berbasis tradisi Islam ahlussunah wal jamaah.
PT NU, melakukan pengembangan ilmu, riset dan inovasi untuk kemandirian umat dan kejayaan bangsa.
Lalu, PCINU Internasional melalui kehadiran global, diplomasi peradaban dan kolaborasi untuk Islam rahmatan lil alamin.
Sedangkan alumni, dengan jaringan profesional, intelektual, dan pemimpin yang memberi manfaat untuk umat dan bangsa.
Sementara untuk industri, tambahnya, adalah penguatan ekonomi umat, industri halal, kewirausahaan dan inovasi berkelanjutan.
“Dalam upaya-upaya itu, kami di BSN sebagai unit usaha Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah, tentu bisa memberikan dukungan untuk tujuan melahirkan ekosistem halal itu,” demikian Bahrullah Akbar.
Sementara itu Sekretaris Utama (Sestama) Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Muhammad Aqil Irham dalam sesi panel menegaskan kembali pernyataan Kepala BPJPH, Dr Ir H Haikal Hassan Baras, ST, MT, yang karib disapa “Babe Haikal”, bahwa industri halal itu bukan hanya soal makanan dan minuman.
“Namun, lebih luas, seperti komestik, farmasi dan obat-obatan, kulit dan lainnya,”katanya.
Sekretaris Panitia Halaqoh, Dr Ir Ifan Haryanto, M.Sc menjelaskan kegiatan selama dua hari itu, hingga Sabtu (29/8) dhadiri perwakilan 25 delegasi PCINU Internasional dari 25 negara (red/02)











