Hemmen

Asal Usul Lampion Imlek, Sanggup Menerangi Jalan Rezeki

Lampion Imlek
ilustrasi lampion

SUDUTPANDANG.ID – Lampion menjadi ikonik setiap Tahun Baru Imlek yang merupakan salah satu hari istimewa bagi masyarakat Tionghoa.

Hal ini menjadi wujud kekayaan tradisi penuh makna yang telah diwariskan turun-temurun sejak Dinasti Han, berkisar tahun 206 Sebelum Masehi hingga 220 Masehi. Salah satunya diyakini akan menerangi jalan rezeki.

Idul Fitri Kanwil Kemenkumham Bali

Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (7/2/2024), asal usul lampion Imlek bermula dari ritual keagamaan. Menurut sejarah, pada hari ke-15 Imlek, para biksu Buddha akan menyalakan lentera sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha.

Dari hal sakral ini, praktik menyalakan lentera kemudian menyebar luas dan diserap ke dalam budaya Tionghoa. Hal ini pun menjadi bagian tak terpisahkan dari Festival Lentera atau Yuan Xiao.

BACA JUGA  Ketua Umum IPTI: Pemuda Tionghoa Harus Aktif Sukseskan Pemilu 2024

Festival ini tidak hanya memanjakan mata dengan bertabur lampion. Tapi juga dihiasi atraksi tarian singa dan naga yang meriah, serta parade dan dentuman kembang api yang merdu.

Legenda lampion sendiri erat kaitannya dengan keselamatan sebuah kota dari murka Kaisar Langit. Kaisar berniat menghancurkannya dengan api karena kematian seekor angsa.

Namun, dengan bijak dan cermat, warga kota menyelamatkan diri dengan bantuan peri yang memberi ide untuk mengelabui sang kaisar. Dengan cahaya lentera, sehingga tradisi tahunan menyalakan lampion pun tercipta.

Arti

Lampion, dalam bahasa Mandarin adalah “Denglong”, sebuah kata yang mengandung arti penerangan. Dominasi warna merah bukan tanpa alasan. Warna ini dipercaya memancarkan energi kemakmuran, persatuan, dan keberuntungan.

BACA JUGA  Sekawanan Monyet Serbu Pemukiman Warga Desa Cigadog

Kepercayaan akan kekuatan bahkan merambah pada pemikirannya sanggup menerangi jalan rezeki dan mengusir “Roh Jahat Nian”.

Beraneka lampion telah didesain, masing-masing dengan keunikan tersendiri. Palace lantern yang megah, Gauze lantern  sederhana namun elegan, dan Shadowpicture lantern menghidupkan kisah-kisah melalui pantulan bayangan.

Ketiga jenis lampion tersebut tidak hanya mendekorasi, tapi juga menerangkan tentang kekayaan budaya dan filosofis Tiongkok yang mendalam. Melalui refleksi dan penerangan, lampion-lampion tersebut menjadi lebih dari sekedar tradisi.

Mereka adalah pembawa cahaya yang membimbing kita melintasi jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang cerah. Di setiap Festival Lentera, ketika malam diterangi oleh ribuan lampion, kita diingatkan akan kekuatan cahaya dan harapan.(Berbagai sumber/06)

Barron Ichsan Perwakum