Hemmen

Bupati Morut Tanam Perdana Lahan Sawit Berpola Plasma Mandiri di Mamosalato

Rangkaian kegiatan penanaman penanaman perdana program perkebunan sawit dengan pola plasma mandiri yang dilakukan Bupati Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Dr dr Delis J. Hehi, MARS dan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Morut, Febriyanthi Hongkiriwang di wit di lahan milik masyarakat di Desa Boba, Kecamatan Mamosalato, Sabtu, (2/3/2024)

MORUT-SULTENG, SUDUTPANDANG.ID – Bupati Morowali Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Dr dr Delis J. Hehi, MARS kembali mencatat terobosan pembangunan di daerahnya, yakni melakukan penanaman perdana program perkebunan sawit dengan pola plasma mandiri.

“Perkebunan sawit pola plasma mandiri ini merupakan yang pertama di Sulawesi Tengah, bahkan mungkin di Sulawesi,” kata Bupati Delis yang didampingi Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Morut, Febriyanthi Hongkiriwang dalam keterangan yang diterima di Kolonodale, Minggu (3/3/2024).

Idul Fitri Kanwil Kemenkumham Bali

Disebutkan bahwa program itu merupakan ide orisinil Bupati Delis bekerja sama dengan PT CAS, yang akhirnya direalisasikan.

Realisasi itu ditandai dengan penanaman perdana bibit sawit di lahan milik masyarakat di Desa Boba, Kecamatan Mamosalato, Sabtu (2/3).

BACA JUGA  Sekjen Gerindra: Jangan Takabur dan Jemawa Atas Hasil Survei

Dalam program ini, pihak perkebunan inti PT CAS akan membantu bibit sawit untuk ditanam di lahan milik masyarakat dan akan dikembalikan harganya kepada perusahaan dari hasil penjualan buah nantinya ke perusahaan.

“Kita sangat bersyukur bahwa PT.CAS bersedia bekerja sama dalam program pengembangan sawit pola plasma mandiri ini. Banyak perusahaan yang tidak mau sebab risikonya besar, terutama bila masyarakat tidak merawat kebunnya dengan baik,” kata Bupati.

Ia menambahkan bila pola ini berhasil, maka setiap warga yang punya lahan pribadi satu hektare (ha) saja, bisa mempunyai pendapatan sekitar Rp2,5 juta/bulan dengan kondisi harga sawit saat ini.

Bupati menyebut bahwa sawit merupakan tanaman masa depan bagi masyarakat karena kebutuhan minyak sawit akan semakin tinggi, baik untuk minyak goreng maupun biosolar.

BACA JUGA  Laut Banda-Sulteng Diguncang Gempa 5,1 M, BMKG Imbau Warga Tetap Tenang

Sementara General Manager (GM) PT CAS Khairul Syam mengaku mengalami hambatan dalam pengembangan sawit di Mamosalato karena dari potensi areal 10.500 ha yang mereka harapkan, baru 2.000an hektare yang bisa dimanfaatkan selama 3 tahun beroperasi.

“Ini karena banyak lahan yang dikuasai warga serta terkena hutan mangrove dan kawasan konservasi,” katanya. (MCDD/02)

 

Barron Ichsan Perwakum