BINTAN, SUDUTPANDANG.ID – Polres Bintan berhasil mengungkap kasus pembunuhan sadis terhadap seorang nelayan berinisial AM (31) yang ditemukan tewas dengan 17 luka tusukan di tubuhnya. Dua dari tiga pelaku berhasil ditangkap, sementara satu lainnya masih dalam pengejaran.
Kasat Reskrim Polres Bintan Iptu Fikri Rahmadi, dalam konferensi pers di Mapolres Bintan, Kepri, Kamis (13/11/2025), menjelaskan bahwa pembunuhan ini merupakan aksi yang direncanakan dengan latar belakang utang dan persoalan asmara, diperparah oleh pengaruh minuman keras.
“Korban dan para pelaku awalnya berkumpul sambil minum-minum di Taman Kolam Kijang. Namun situasi berubah menjadi tegang hingga berujung pada perkelahian yang berakhir tragis,” ujar Iptu Fikri.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu malam, 5 November 2025, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, korban bersama ketiga pelaku SC (26), LS (23), dan Y (22) berpindah ke sebuah rumah kosong di Jalan Ahmad Yani, Kampung Pisang, untuk melanjutkan minum-minum. Di lokasi sepi itulah pembunuhan terjadi.
Pelaku SC menusuk korban berkali-kali menggunakan pisau, sementara LS dan Y ikut memukul korban hingga terjatuh. Korban tewas di tempat dengan 17 luka tusukan.
Jasad AM ditemukan warga dua hari kemudian, Jumat (7/11/2025), dalam kondisi mengenaskan. Polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan dan menangkap LS di hari yang sama, disusul SC sehari kemudian di Kampung Beringin Indah Timur.
Sementara satu pelaku lain, Y, masih buron dan telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk pisau, pakaian korban dan pelaku, serta dua sepeda motor yang digunakan dalam aksi tersebut.
“Kami terus memburu satu pelaku lainnya. Kasus ini menjadi perhatian serius karena mengandung unsur perencanaan dan kekerasan berat,” ujarnya.
Kedua pelaku yang sudah diamankan dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider Pasal 338 KUHP, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.
“Kami masih terus memburu satu pelaku lainnya. Kasus ini menjadi perhatian serius karena mengandung unsur perencanaan dan kekerasan brutal,” tegasnya.(ian/01)


