JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Perjalanan hidup Lailatul Arofah adalah kisah tentang keyakinan yang tumbuh di tengah keterbatasan. Lahir di Gresik, 10 September 1967, perempuan yang akrab disapa Bunda Laila ini sudah bercita-cita menjadi hakim sejak kecil sebuah impian yang terasa jauh dari realitas hidupnya saat itu.
Benih Cita-cita dan Perlawanan Sejak Dini Saat kecil, Laila pernah merasa kecewa ketika belajar fiqh. Gurunya menyampaikan pandangan Imam Syafi’i bahwa perempuan tidak diperbolehkan menjadi hakim karena dianggap lebih mengedepankan emosi dibanding akal.
Laila kecil tidak sepakat. Dalam pikirannya, perempuan justru memiliki kepekaan lebih dalam, terutama dalam perkara yang menyangkut ibu dan anak. Alih-alih mematahkan semangatnya, pandangan itu justru menguatkan tekadnya untuk membuktikan bahwa perempuan mampu menghadirkan keadilan.
Namun tantangan terbesar bukanlah perdebatan pemikiran, melainkan kondisi ekonomi keluarga. Sejak SD, Laila berangkat sekolah sambil membawa dagangan opak dan kacang pedas. Ia berjualan di sela waktu belajar, tetapi prestasinya tetap gemilang selalu peringkat pertama dari kelas satu hingga lima.
Ketika sang ayah sakit lalu wafat saat ia berusia 13 tahun, ancaman putus sekolah semakin nyata. Meski menjadi yatim, ia tak ingin menyerah. Untuk membiayai sekolah, ia bekerja di usaha pembuatan perhiasan imitasi berbahan tembaga.
Ia belajar di sela pekerjaan, hingga buku-bukunya dipenuhi noda tembaga. Sempat turun prestasi di awal Tsanawiyah, namun sejak kelas dua ia kembali menjadi peringkat pertama.
Pertanyaan yang Mengubah Hidup Setelah lulus Tsanawiyah, ia melanjutkan ke SPG Muallimat. Momen penting terjadi saat pamannya diminta mengambil rapor dan mendapat kabar dari guru bahwa Laila adalah murid cerdas dan layak melanjutkan pendidikan tinggi.
Menjelang kelulusan, pamannya bertanya, “Kamu mau kuliah?”
Tanpa ragu ia menjawab, “mau.”
“Jika dilihat dari kemampuan keluarga saya pribadi, rasanya mustahil sekali saya bisa kuliah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Ibunya sempat bertanya, “Memangnya kamu nyaman dibiayai pamanmu, kamu kan biasa mandiri,”
Pertanyaan itu mengguncang batinnya. Namun tekad untuk menjadi hakim membuatnya tetap melangkah. Ia pun melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Pertolongan yang Datang Tak Terduga Memasuki semester tiga, pamannya jatuh sakit. Lailatul Arofah merasa tak enak hati terus menerima biaya. Ia meminta nasihat guru dan menjalankan riyadhah pada malam nisfu sya’ban.
Keesokan harinya, sebuah pertemuan tak terduga terjadi di kampus. Ia membantu seorang ibu mencari adiknya, dan dalam percakapan diketahui keluarga itu sedang mencari guru mengaji.
“Kalau mengajar ngaji saya bisa Bu, kebetulan dulu saya sekolah SPG,” cerita Laila mengulang jawabannya kepada ibu-ibu yang baru dikenalnya tersebut.
Ia diterima mengajar dengan honor Rp20.000 per bulan. Setelah dipotong ongkos perjalanan, tersisa Rp15.000 jumlah yang sama dengan kiriman bulanan pamannya. Ia merasakan pertolongan Allah hadir lewat jalan yang tak pernah ia rencanakan.
Menikah, Hamil, dan Lulus Terbaik Di semester enam, Laila jatuh cinta. Ia ingin menjaga prinsip tanpa pacaran, tetapi juga tidak ingin putus kuliah. Atas nasihat gurunya, ia menikah dengan pria yang dicintainya.
Sambil kuliah, ia menjalani peran sebagai istri, pekerja, bahkan ibu hamil. Saat menyusun tugas akhir, ia tengah hamil besar. Namun prestasinya tetap tertinggi. Ia lulus tercepat dalam sejarah jurusannya dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Setelah lulus, ia mengajar di MAN Probolinggo dan Madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton. Menjadi Hakim hingga Hakim Agung Setelah terbitnya UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dibuka rekrutmen besar-besaran hakim pada 1991.
Laila mengikuti seleksi dan lulus dengan nilai terbaik se-Wilayah PTA Surabaya. Pada pendidikan Cakim 1992, ia kembali menjadi peringkat pertama dari 250 peserta.
Selama hampir tiga dekade, ia mengabdi sebagai hakim di berbagai daerah. Tahun 2023, ia dipercaya menjadi hakim tinggi di Badan Pengawasan Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Dorongan untuk mengikuti seleksi Calon Hakim Agung terus datang, termasuk dari almarhum Abdul Manaf. Setelah gagal pada 2024, ia mencoba lagi pada 2025 dan dinyatakan lulus. Ia dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung, Sunarto, pada 23 Oktober 2025 di Jakarta.
Niat dan Integritas sebagai Kunci Ketika ditanya rahasia kelulusannya, Laila selalu menekankan pentingnya niat. Niat yang sungguh-sungguh akan mendorong seseorang belajar maksimal. Namun bila hasil belum sesuai harapan, jangan berburuk sangka kepada Allah karena manusia tidak mengetahui rencana terbaik-Nya.
Ia meyakini seluruh perjalanan hidupnya adalah jalan yang Allah bukakan sedikit demi sedikit. Sebagai hakim perempuan, ia menyadari tanggung jawabnya berlapis. Ia tetap harus menjalankan peran sebagai istri dan ibu di tengah profesi yang berat. Ia berpesan agar hakim perempuan menjaga komunikasi dan menghormati pasangan, terutama ketika posisi karier lebih tinggi dari suami.
Dari penjual opak menjadi hakim agung, kisah Lailatul Arofah adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju takdir yang telah disiapkan dengan niat, ketekunan, dan keimanan.(PR/04)









