JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, menegaskan bahwa seluruh pengurus organisasi olahraga harus menempatkan diri sebagai pelayan atlet dan anggota.
Pesan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Ketua Umum KONI Kalimantan Timur terpilih periode 2026-2030, Anderiy Syachrum, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Marciano menekankan pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dalam organisasi olahraga.
Menurutnya, jabatan sebagai pengurus olahraga merupakan amanah yang tidak dimiliki semua orang dan harus dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan atlet serta pembinaan olahraga nasional.
Ia menjelaskan bahwa olahraga memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa. Selain menjadi bagian dari Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, olahraga juga berperan penting dalam membentuk karakter, disiplin, mental juang, dan semangat persatuan bangsa.

“Tidak semua orang mendapatkan kesempatan menjadi pengurus organisasi olahraga. Karena itu, ketika mendapat amanah tersebut, kita harus menempatkan diri sebagai pelayan atlet dan anggota,” kata Marciano Norman.
Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh sosok ketua, tetapi juga dipengaruhi oleh soliditas seluruh jajaran pengurus dalam menjalankan program kerja yang telah disepakati bersama.
Marciano mengingatkan bahwa ketua organisasi memiliki peran sentral dalam menentukan arah kebijakan dan strategi organisasi. Namun, seluruh pengurus juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan masukan yang konstruktif demi kemajuan organisasi.
“Baik dan buruknya KONI bergantung pada ketuanya. Namun keberhasilan program kerja juga sangat ditentukan oleh peran pengurus yang bekerja secara solid dan memiliki tujuan yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan, setiap pengurus memiliki hak untuk menyampaikan pandangan dan masukan. Namun setelah keputusan ditetapkan oleh pimpinan organisasi, seluruh pengurus harus bersatu dan mendukung pelaksanaan keputusan tersebut demi kepentingan organisasi.
“Dalam prosesnya, ketua dapat menerima berbagai masukan. Tetapi ketika keputusan sudah diambil, maka itu menjadi keputusan bersama yang harus didukung oleh seluruh pengurus,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Marciano juga memberikan apresiasi terhadap prestasi olahraga Kalimantan Timur yang selama ini konsisten menjadi salah satu kekuatan olahraga nasional. Menurutnya, provinsi tersebut memiliki sejarah panjang dalam melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Berdasarkan catatan Pekan Olahraga Nasional (PON), Kalimantan Timur selalu mampu menembus peringkat 10 besar dalam empat edisi terakhir. Pada PON XVIII Tahun 2012 di Riau dan PON XIX Tahun 2016 di Jawa Barat, Kalimantan Timur berhasil menempati posisi kelima klasemen akhir perolehan medali.
Sementara pada PON XX Tahun 2021 di Papua, Kalimantan Timur berada di peringkat ketujuh. Sedangkan pada PON XXI Tahun 2024 Aceh-Sumatera Utara, provinsi tersebut kembali menunjukkan konsistensinya dengan finis di posisi kedelapan nasional.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki sistem pembinaan olahraga cukup baik dan mampu menghasilkan atlet berkualitas di berbagai cabang olahraga.
“Kalimantan Timur merupakan salah satu pusat lahirnya atlet-atlet Indonesia. Saya berharap prestasi atlet-atlet dari Kalimantan Timur pada masa mendatang bisa semakin meningkat dan memberikan kontribusi lebih besar bagi olahraga nasional,” ujar Marciano.
Lebih lanjut, Marciano menjelaskan bahwa keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya bergantung pada kualitas atlet dan pelatih. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, organisasi olahraga yang memiliki tata kelola baik akan lebih mudah menjalankan program pembinaan atlet secara berkelanjutan. Sebaliknya, organisasi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menghadapi berbagai kendala yang dapat menghambat pencapaian prestasi.
“Tata kelola organisasi menjadi fondasi utama dalam pembinaan olahraga. Semua harus dimulai dari hubungan yang harmonis di internal KONI provinsi, hubungan dengan anggota yang terdiri dari pengurus cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota, serta hubungan yang baik dengan pemerintah daerah,” jelasnya.
Marciano menilai sinergi antara KONI provinsi, pengurus cabang olahraga, KONI kabupaten/kota, dan pemerintah daerah merupakan faktor kunci dalam menciptakan iklim pembinaan olahraga yang sehat dan produktif.
Dengan koordinasi yang baik, berbagai program pembinaan atlet dapat berjalan secara efektif, mulai dari pencarian bibit atlet, pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, hingga penyediaan sarana dan prasarana olahraga yang memadai.
Kepada kepengurusan baru KONI Kalimantan Timur, Marciano berharap semangat kebersamaan dan pelayanan kepada atlet dapat menjadi landasan utama dalam menjalankan roda organisasi selama empat tahun ke depan.
Ia optimistis, dengan kepemimpinan yang kuat, tata kelola organisasi yang baik, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, Kalimantan Timur akan terus menjadi salah satu lumbung atlet nasional dan mampu meningkatkan prestasi pada ajang-ajang olahraga mendatang.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tujuan utama organisasi olahraga bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga memastikan para atlet mendapatkan dukungan terbaik agar mampu berkembang secara maksimal dan mengharumkan nama bangsa di berbagai kompetisi. (09/AGF).










