Opini  

Ketika Makanan Instant Menyiksa Ginjal

Ketika Makanan Instant Menyiksa Ginjal. Digital
Kemal H Simanjuntak, Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK) (Foto: SP)

“Jangan sampai kemudahan sesaat di lidah hari ini harus dibayar mahal dengan ketergantungan pada mesin cuci darah di kemudian hari.”

Oleh: Kemal H Simanjuntak

Di tengah kesibukan sehari-hari, kita sering kali mencari makanan yang serba cepat dan praktis. Pulang kerja capek, tinggal seduh mi instan, goreng sosis atau nugget, lalu ditutup dengan segelas minuman kola dingin bersoda.

Rasanya memang nikmat, murah, dan bikin kenyang seketika. Namun, di balik kepraktisan itu, ada satu organ di tubuh kita yang harus bekerja ekstra keras tanpa pernah mengeluh: ginjal.

Tiga menu favorit ini sebenarnya menyimpan beban yang cukup berat bagi sistem penyaring tubuh kita jika dikonsumsi terlalu sering: Sosis dan Naget (Daging Olahan):

BACA JUGA  VinFast di Jalan Raya, Bukan di Etalase: Konsistensi GRC ala Vietnam

Makanan beku olahan memang gurih, tetapi rasa gurih itu datang dari tumpukan garam dan bahan pengawet kimia. Garam yang berlebihan membuat pembuluh darah menyempit dan tekanan darah naik, sehingga saringan kecil di dalam ginjal dipaksa bekerja di bawah tekanan tinggi terus-menerus.

Kola Hitam Bersoda: Rasa asam segar pada minuman kola biasanya berasal dari asam fosfat sintetis. Zat kimia ini diserap tubuh dengan sangat cepat dan dapat memicu penumpukan kalsium di pembuluh darah halus serta memperbesar risiko terbentuknya batu ginjal.

Mi Instan: Bumbu gurih mi instan umumnya mengandung natrium yang sangat tinggi. Sekali kita menghabiskan semangkuk mi beserta kuahnya, jatah maksimal garam untuk seharian penuh sering kali langsung terlewati.

BACA JUGA  Gejala Kenaikan Harga Selama Ramadan: Kebodohan atau Ketidakberdayaan?

Ginjal pun terpaksa memompa dan menyaring kelebihan cairan serta garam itu secara mendadak.

Masalah utamanya, ginjal adalah organ yang sangat sabar. Organ ini jarang memberikan tanda atau rasa sakit saat mulai terbebani.

Gejala biasanya baru terasa ketika fungsinya sudah turun drastis. Akibatnya, pemandangan di ruang cuci darah saat ini mulai berubah.

Jika dulu pasien gagal ginjal didominasi orang tua, sekarang makin banyak anak muda usia 20-an hingga 30-an tahun yang harus cuci darah rutin karena pola makan tinggi garam dan gula olahan sejak dini.

Menjaga kesehatan ginjal sebenarnya tidak butuh biaya mahal. Kuncinya cukup dengan lebih bijak: batasi makanan instan kemasan, kurangi menyeruput kuah mi sampai habis, ganti minuman manis bersoda dengan air putih, dan kembali ke makanan segar masakan rumah.

BACA JUGA  Fenomena K-Pop Menguasai Dunia, Bagaimana Potensi Indonesia?

Jangan sampai kemudahan sesaat di lidah hari ini harus dibayar mahal dengan ketergantungan pada mesin cuci darah di kemudian hari.

*Penulis adalah Konsultan Manajemen, GRC Expert, Asesor LSP Tatakelola, Risiko dan Kepatuhan