Kembali ke persoalan tulis-menulis, berdasarkan paparan di atas, secara singkat dapat disimpulkan bahwa budaya menulis perlu dikembangkan, bukan hanya sejak seseorang masuk ke perguruan tinggi, melainkan bahkan sedini mungkin, yakni sejak seorang anak mengerti tentang baca-tulis.
Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya menulis dan membaca akan sangat membantu proses belajar dan mengajar. Kita belajar untuk menjadi pandai tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, meskipun banyak metode lain yang juga bisa digunakan agar seseorang menjadi pandai dan cerdas.
Melalui tulisanlah kita bisa memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi peningkatan kesejahteran hidup masyarakat. Pada era teknologi informasi yang maju pesat dewasa ini pun tulisan tetap merupakan media komunikasi yang diandalkan.
Tidak mudah memang. Tapi sejatinya semua orang terpelajar pasti bisa menulis asalkan mereka mempunyai idealisme, banyak membaca, fokus, bersungguh-sungguh, mau bekerja keras, dan “last but not least” memiliki kesabaran.
Maka, kiranya tepat kata-kata bijak dari Umar bin Khatab, salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan: “Dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar”.
*Penulis, Dr. Elli Widia, S.Pd., MM.Pd adalah Dosen Pascasarjana Universitas Batam (Uniba) serta Tutor Pendidikan Dasar S1 dan Pascasarjana Universitas Terbuka (UT). Akademisi Kelahiran Blang Pidie Nanggroe Aceh Darussalam ini juga mengajar di SD Islam Nabilah Batam











