Shore to Ship Power Conection Solusi Hemat Energi Menuju Green Port

PT Energi Pelabuhan Indonesia (PT EPI), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) bersama dengan Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok menggelar acara Forum Ecoport bertajuk "Menuju Green Port of Tanjung Priok by Shore to Ship Power Connection" di Jakarta, Rabu (30/3/2022)/ist

“Penggunaan shore to ship power conection bermanfaat untuk penghematan biaya antara 15 – 30% dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil.”

“JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PT Energi Pelabuhan Indonesia (PT EPI), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) bersama dengan Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok menggelar acara Forum Ecoport bertajuk “Menuju Green Port of Tanjung Priok by Shore to Ship Power Connection” di Jakarta, Rabu (30/3/2022).

IMG-20220125-WA0002

Hadir dalam acara yang berlangsung hybrid, Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Laut Capt Mugen S Sartoto, Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Capt. Wisnu Handoko, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Nani Hendiarti dan Direktur Utama PT Pelindo (Persero) yang diwakili oleh Head of GM Pelindo Regional 2 Guna Mulyana dan Direktur Utama PT EPI Imanuddin.

Tampil sebagai narasumber yakni Dosen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Indra Ranu, Direktur PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) Rudiyanto dan Pakar PEMSEA-Organisasi Maritim Internasional Mr. Juergen Lorenz.

Peserta forum berasal dari berbagai kalangan, di antaranya Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kemenko Marves, KSOP dari seluruh Indonesia, stakeholder Pelabuhan, Agen Pelayaran, Sekolah Tinggi di bawah naungan Kemenhub dan PT Pelindo (Persero).

Acara ini bertujuan untuk membahas soal layanan shore to ship yang dapat mendukung kampanye green port dan smart port sebagaimana hasil dari UN Climate Change Conference 2021 Glasgow. Selain itu, memberikan banyak manfaat terutama bagi pengguna jasa kepelabuhanan.

Plt. Dirjen Perhubungan Laut Capt. Mugen S Sartoto dalam sambutannya mengatakan, penggunaan shore to ship power akan menghemat energi yang berdampak pada biaya logistik.

“Akseleri engine saat akan bersandar akan dipindahkan ke port sehingga akan dapat menghemat 15-30% biaya saat sandar kapal,” kata Capt. Mugen.

Menurutnya, karena alatnya dapat mereduksi energi pada beberapa jenis kapal sehingga dapat menghemat biaya dan energi kapal dibandingkan menggunakan mesin bantu sendiri.

“Penerapan ini akan menjadi terobosan untuk menanggulangi isu lingkungan dan energi global,” ujar mantan Ka OP Tanjung Priok ini.

Dirinya berharap kedepan dapat memberikan gambaran media sharing session dan persyaratan teknis termasuk permasalahan serta solusi dalam menurunkan atau mengurangi emisi.

“Pilot project ini juga nantinya dapat diikuti juga oleh pelabuhan-pelabuhan lainnya di luar Tanjung Priok,” imbuhnya.

Mendukung

Regional Head 2 Pelindo Guna Mulyana menyatakan pihaknya mendukung penuh penerapan green ecoport di Pelabuhan Tanjung Priok. Pihaknya juga mengapresiasi terselenggaranya acara yang mengusung tema kegiatan mendukung terciptanya greenport.

“Visinya bagaimana Pelindo ke depan bisa mewujudkan greenport dengan menyediakan alat atau media yang menghemat energi di pelabuhan,” ujarnya.

“Pelindo melalui PT EPI akan mewujudkan pelabuhan berwawasan lingkungan atau ecoport dengan tetap memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan terutama lingkungan, jadi bukan hanya berbasis bisnis saja,” sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Capt Wisnu Handoko, mengungkapkan, Pelabuhan Tanjung Priok terus melakukan berbagai upaya untuk menciptakan pelabuhan berwawasan lingkungan.

“Pelabuhan Tanjung Priok melalui Kantor Otoritas Pelabuhan Utama selama 4 tahun berturut-turut secara konsisten telah mengadakan forum ecoport yang secara bergantian mengusung tema kegiatan yang mendukung terciptanya greenport dan ecoport di Pelabuhan Tanjung Priok,” terangnya.

Forum ecoport, jelasnya, telah dilaksanakan sejak tahun 2019. Sehingga forum ini merupakan sarana diskusi dan aksi nyata bagi PT Pelindo untuk membahas isu-isu terkait ecoport.

“Kita berkumpul bersama untuk mendiskusikan bagaimana upaya kita mewujudkan greenport dan ecoport, termasuk mendiskusikan bagaimana mengatasi emisi yang terbuang,” jelas Capt. Wisnu.

Ia juga menjelaskan bahwa konsep ecoport memiliki 4 pilar utama yang harus dikawal tidak hanya di Pelabuhan Tanjung Priok, namun di semua pelabuhan di Tanah Air.

“Ecoport memiliki 4 pilar utama yang harus dikawal, yaitu pemenuhan semua persyaratan regulasi di bidang lingkungan hidup, penerapan sistem manajemen lingkungan, pelaksanaan green initiatives (inisiatif hijau), keterlibatan stakeholders untuk mendukung upaya pemenuhan regulasi dan implementasi green initiatives di pelabuhan,” papar Capt Wisnu.

Strategi

Pada kesempatan itu, Direktur Utama PT EPI Imanuddin, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan strategi untuk memaksimalkan upaya dalam pengurangan emisi kapal di pelabuhan.

“Untuk mewujudkan green port, kami akan memaksimalkan penggunaan shore to ship power connection. Penyediaan tenaga listrik dari pelabuhan ke kapal di dermaga, di mana mesin utama dan mesin bantunya dimatikan,” ujarnya.

Shore power dapat menghemat konsumsi bahan bakar yang harus digunakan untuk daya kapal saat di pelabuhan serta mengurangi polusi udara di pelabuhan akibat konsumsi bahan bakar dari permesinan bantu kapal,” sambung Imanuddin, dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan pelayanan shore power connection di Pelabuhan Tanjung Priok dengan 2 unit frequency converter dengan kapasita terpasang @500 kVA di Kade 208 sd 211.

“Saat ini shore to ship power connection telah dimanfaatkan oleh Pelayaran Meratus di mana 5 kapalnya telah siap untuk menerima sumber listrik dari darat,” katanya.

Dalam roadmap yang sudah dibuat, lanjutnya, shore to ship power connection akan digunakan untuk kapal peti kemas domestik terlebih dahulu kemudian internasional. Selanjutnya kendaraan terminal.

“Penggunaan shore to ship power conection bermanfaat untuk penghematan biaya antara 15 – 30% dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil,” terang Imanuddin.

Pihaknya berharap penerapan shore to ship power connection menjadi salah satu terobosan untuk menanggulangi isu-isu lingkungan yang menjadi fokus G20 yang berkaitan dengan perubahan iklim dan energi global.

“Diharapkan Pelabuhan Tanjung Priok mewujudkan green port and smart port dan menjadi pilot project yang dapat diterapkan di seluruh pelabuhan lain di Indonesia,” harapnya.(um)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.