JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Gas biometana terkompresi (compressed biomethane gas/CBG) yang diproduksi dari limbah delapan pabrik kelapa sawit milik PTPN IV PalmCo akan diserap PT Pertagas Niaga (PTGN) untuk memenuhi kebutuhan energi industri.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian penjualan CBG jangka panjang antara PT reNIKOLA Primer Energi (PT RPE) dan PTGN. PT RPE merupakan afiliasi pengembang energi terbarukan reNIKOLA Holdings Sdn Bhd.
CBG tersebut diproduksi dengan memanfaatkan limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) dari delapan pabrik milik PTPN IV PalmCo.
Pengembangan delapan fasilitas CBG itu diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 45 juta dollar AS. Setelah seluruh fasilitas beroperasi, proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan energi terbarukan lebih dari 830.000 MMBtu per tahun.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan pemanfaatan limbah tersebut merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular perusahaan.
“Dengan mengubah emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan, kami menunjukkan bagaimana industri kelapa sawit dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan rendah karbon di Indonesia,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).
Sementara itu, Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo mengatakan, pengembangan delapan fasilitas tersebut merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) dekarbonisasi perusahaan.
“Integrasi pengolahan limbah sawit ini sejalan dengan target nasional dalam mencapai Net Zero Emission. Kerja sama antara penyuplai bahan baku, pengembang teknologi dari reNIKOLA, serta offtaker dari Pertagas Niaga membuktikan bahwa transisi energi di sektor sawit dapat dieksekusi secara terukur dan berkelanjutan secara bisnis,” kata Ugun.
Disalurkan melalui jaringan gas
Dalam kerja sama tersebut, PTGN bertindak sebagai offtaker CBG yang diproduksi PT RPE. Perjanjian penjualan CBG itu berlaku selama 15 tahun.
CBG tersebut nantinya disalurkan kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas bumi yang telah beroperasi.
Untuk mendukung penyaluran, Pertagas merencanakan pembangunan stasiun injeksi biometana di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Fasilitas tersebut dirancang untuk menghubungkan pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit dengan jaringan distribusi gas.
Chief Operating Officer reNIKOLA Dr Amran Yusof mengatakan kerja sama hulu-hilir tersebut dapat mendukung pengembangan pasar gas terbarukan di Indonesia.
“Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat dikembangkan secara luas,” ujar Amran.
Direktur Utama PTGN Toto Yulianto mengatakan gas terbarukan dapat menjadi salah satu pilihan energi bagi konsumen industri yang membutuhkan sumber energi rendah karbon.
“Melalui kolaborasi ini, kami menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang ada, memperluas akses terhadap energi yang lebih bersih sekaligus memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia,” kata Toto.
Diklaim kurangi emisi
Jatmiko kembali menjelaskan, secara teknis, fasilitas CBG tersebut memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pengolahan POME.
Ia menyebut pengoperasian fasilitas tersebut diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 320.000 ton setara karbon dioksida (CO2) per tahun.
“Angka tersebut, berdasarkan perhitungan perusahaan, setara dengan menghindari pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara setiap tahun,” jelasnya.
Selain pengurangan emisi, lanjutnya, proyek tersebut diperkirakan membuka lapangan kerja baru selama tahap konstruksi dan operasional fasilitas serta mendorong keterlibatan rantai pasok lokal di sekitar wilayah perkebunan.
“Pengembangan fasilitas CBG tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan limbah perkebunan sebagai sumber energi sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi,” tambah Jatmiko.(red)











