“Natal adalah panggilan eksistensial untuk pulang ke rumah cinta, tempat manusia memulihkan kasih sayang dan persatuan.”
Oleh Yudi Latif
Saudaraku, selamat Natal dan Tahun Baru! Bagi yang merayakan, setiap momen ini tiba, ada kerinduan pulang ke “rumah”. Itu bukan kecengengan sentimental, melainkan panggilan eksistensial. Makhluk hidup mengidap sejenis penyakit yang tak bisa disembuhkan, kecuali bisa kembali ke “rumah” asal atau menemukan rumah baru, tempat harapan masa depan bisa menetas dan berkembang.
Setelah mengembara ribuan mil, kura-kura dan burung pulang ke tempat asal kelahiran untuk bertelur atau menjalin perkawinan. Dengan kapasitas otak lebih mumpuni, pengertian pulang ke rumah bagi manusia tak mesti kembali ke titik asal di muka bumi. Rumah bisa di mana pun tempat yang terbayang dan terasakan sebagai wahana manusia menemukan kasih sayang, kesejatian, kenyamanan, perlindungan, dan kerinduan.
Demikianlah, Natal dan Tahun Baru adalah ritus peralihan sebagai alas kelahiran kembali dengan menarik manusia ke “titik keberangkatan dan kepulangan”, tempat memulihkan keriangan, cinta kasih, semangat berbagi, dan persatuan keluarga.
Kebahagiaan hidup bersama dimulai dengan menyalakan cahaya cinta. Memulihkan cahaya cinta memancarkan keindahan dalam diri. Jika ada keindahan dalam diri, ada harmoni dalam rumah. Jika ada harmoni dalam rumah, ada kedamaian dalam kehidupan bangsa. Jika ada kedamaian dalam bangsa, ada kebahagiaan di dunia.
Sebaik-baik rumah, seperti digambarkan dalam Alkitab, ialah rumah yang dibangun dengan kebijaksanaan, ditegakkan dengan pengertian, yang setiap kamarnya diisi pengetahuan dengan segala kemekaran keriangan dan kemuliaan. Rumah kebajikan yang pintunya terbuka penuh cinta bagi yang lain.
Sebaik-baik Natal adalah Natal yang semangatnya diperlebar. Natal tidaklah jadi Natal tanpa suatu hadiah. Dan tiada hadiah yang lebih berharga daripada cinta. Ia adalah obat bagi yang sakit, lilin bagi kegelapan, lem bagi retakan, dan asa bagi kebuntuan.
Saat langit mendung dikepung awan ketidakpercayaan, alam bubrah, bencana melanda, kesenjangan melebar, semangat kasih Natal seyogianya tak sekadar ritual musiman bagi sesama penganut, melainkan merembesi setiap relung ruang dan waktu. Setiap hari adalah Natal, setiap ruang adalah rumah cinta.
*Penulis adalah aktivis dan cendekiawan muda, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia) dan Direktur Eksekutif Reform Institute, serta aktif sebagai dosen tamu di sejumlah pendidikan tinggi.










