Opini  

Pelecehan Seksual Bukan Sekadar Sentuhan: Luka Batin yang Tak Kasat Mata dan Tanggung Jawab Moral Setiap Individu

Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa, Pelecehan Seksual Bukan Sekadar Sentuhan: Luka Batin yang Tak Kasat Mata dan Tanggung Jawab Moral Setiap Individu
Foto: Dok. Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025/2026

“Pelecehan seksual tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Kadang ia hadir lewat kata-kata yang dianggap biasa, tetapi diam-diam meruntuhkan rasa aman dan harga diri seseorang.”

Oleh: Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa, Sri Madea Addianty dan Toni Budi Santoso
Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang | PKM 2025/2026

Ketika mendengar kata “pelecehan seksual”, kebanyakan orang langsung membayangkan tindakan fisik yang kasar dan nyata. Padahal, pelecehan seksual tidak selalu berbentuk sentuhan. Ia bisa hadir dalam kata-kata, tatapan, atau candaan yang dianggap biasa. Justru bentuk-bentuk seperti itulah yang paling sering lolos dari perhatian, bahkan dari kesadaran pelakunya sendiri.

Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang kami lakukan di lingkungan sekolah menengah, para siswa diajak melihat persoalan ini secara lebih jujur. Bahwa komentar tentang tubuh seseorang, siulan di belakang punggung, atau lelucon bernuansa seksual yang diklaim sebagai candaan, tetap merupakan bentuk pelecehan. Tidak peduli seberapa ringan hal itu terdengar.

Luka yang Tidak Bisa Dilihat

Ada sesuatu yang membedakan luka akibat pelecehan verbal dengan luka fisik. Luka fisik dapat terlihat, dibuktikan, dan diobati. Sebaliknya, luka batin tidak meninggalkan bekas yang kasat mata. Ia tersimpan di ruang yang hanya diketahui oleh korban.

Korban mungkin tampak baik-baik saja. Mereka tetap pergi ke sekolah, tersenyum, dan bergaul seperti biasa. Namun di dalam dirinya, bisa saja tersimpan rasa malu yang terus berulang, kegelisahan yang tidak tahu harus diluapkan ke mana, atau kepercayaan diri yang perlahan runtuh. Tidak semua orang dapat melihatnya. Bahkan, tidak sedikit korban yang baru menyadari kemudian bahwa apa yang mereka rasakan merupakan dampak dari perlakuan yang salah.

BACA JUGA  Mencari Pemimpin di Tengah Rivalitas Super Power

Situasi ini menjadi semakin berat karena tekanan sosial yang menyertainya. Korban kerap takut dianggap terlalu sensitif, dicap “baper”, atau bahkan “lebay”, dilebih-lebihkan ketika berbicara. Akibatnya, banyak yang memilih diam dan memendam semuanya sendirian dalam waktu lama.

Di sinilah pentingnya kesadaran bersama. Luka batin tidak dapat diukur dari luar. Tidak ada standar yang mampu menentukan seberapa dalam sebuah ucapan dapat melukai seseorang. Dan karena tidak terlihat, luka semacam ini sangat mudah diremehkan, bahkan oleh orang-orang yang sebenarnya peduli.

Bukan Hanya Soal Tangan, tetapi Juga Mata dan Lisan

Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa, Pelecehan Seksual Bukan Sekadar Sentuhan: Luka Batin yang Tak Kasat Mata dan Tanggung Jawab Moral Setiap Individu
Foto: Dok. Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025/2026

Dari pengalaman mendampingi kegiatan PKM ini, kami belajar satu hal mendasar: menjaga diri bukan hanya soal menahan tangan agar tidak menyentuh orang lain tanpa izin. Menjaga diri juga berarti menjaga mata dan menjaga lisan.

Tatapan yang memandang seseorang sekadar sebagai objek, lalu menjadikannya bahan komentar atau lelucon, pada dasarnya sudah melanggar batas penghormatan terhadap sesama. Cara seseorang memandang orang lain akan menentukan bagaimana ia memperlakukan mereka. Ketika seseorang terbiasa merendahkan fisik orang lain dalam pikirannya, hanya tinggal selangkah sebelum hal itu berubah menjadi ucapan.

Lisan sering kali menjadi bagian yang paling diremehkan. Padahal, kata-kata memiliki dampak yang tidak sebanding dengan mudahnya ia diucapkan. Komentar tentang tubuh seseorang yang dibalut tawa, siulan yang dianggap pujian, atau candaan seksual yang disebut sebagai bentuk keakraban, semuanya dapat meninggalkan jejak bagi orang yang mendengarnya.

BACA JUGA  'Chip in with Taiwan' Demi Perdamaian dan Kemakmuran Global

Itu bukan sikap berlebihan. Bukan pula sekadar persoalan “tidak bisa bercanda”. Reaksi tidak nyaman yang dirasakan korban adalah respons yang sangat manusiawi terhadap sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Pada akhirnya, cara seseorang berbicara dan memandang orang lain mencerminkan siapa dirinya. Karakter tidak terbentuk dari satu peristiwa besar, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang setiap hari.

Ketika Candaan Menggeser Batas

Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa, Pelecehan Seksual Bukan Sekadar Sentuhan: Luka Batin yang Tak Kasat Mata dan Tanggung Jawab Moral Setiap Individu
Foto: Dok. Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025/2026

Pelecehan nonfisik sering kali sulit dikenali karena terjadi di tengah tawa dan suasana yang tampak santai. Ketika semua orang tertawa dan hanya korban yang diam, bukan berarti candaan itu lucu. Bisa jadi korban tidak tahu harus bereaksi bagaimana, atau merasa tidak memiliki ruang untuk memprotes.

Di titik inilah normalisasi terjadi. Perilaku yang sebenarnya merendahkan perlahan diterima sebagai sesuatu yang wajar karena terus diulang dan tidak pernah ditegur. Semakin lama normalisasi berlangsung, semakin sulit pula bagi korban untuk meyakini bahwa rasa tidak nyaman yang mereka alami adalah sesuatu yang valid.

Mereka mulai mempertanyakan diri sendiri: apakah aku terlalu sensitif? Apakah aku berhak merasa terluka. Jawabannya: ya. Mereka berhak. Tidak ada perasaan yang harus dibuktikan terlebih dahulu agar bisa dianggap nyata.

Ini Soal Pilihan

Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa, Pelecehan Seksual Bukan Sekadar Sentuhan: Luka Batin yang Tak Kasat Mata dan Tanggung Jawab Moral Setiap Individu
Foto: Dok. Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025/2026

Tidak ada seorang pun yang memilih menjadi korban pelecehan. Tidak ada yang meminta tubuhnya dikomentari, direndahkan melalui candaan seksual, atau diperlakukan seolah keberadaannya hanya bahan lelucon.

Namun menjadi pelaku adalah pilihan. Sadar atau tidak, setiap kata yang diucapkan dan setiap tatapan yang diarahkan merupakan pilihan yang dibuat oleh seseorang.

BACA JUGA  Dampak Lingkungan Fast Fashion: Apakah Cukai Dapat Memaksa Industri Bertanggung Jawab?

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Bukan hanya dalam bentuk sanksi sosial atau hukum, tetapi juga menyangkut siapa diri kita di mata orang lain. Reputasi tidak dibangun dari satu tindakan besar, melainkan dari pola perilaku yang dilakukan berulang kali.

Melalui kegiatan PKM ini, kami semakin yakin bahwa edukasi mengenai pelecehan seksual perlu dimulai sejak dini dan disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan remaja. Bukan untuk menggurui, melainkan membuka ruang berpikir yang lebih jujur tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya, sekaligus bagaimana setiap orang ingin diperlakukan.

Lingkungan yang aman tidak terbentuk hanya melalui kebijakan atau seminar semata. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: menjaga ucapan, mengendalikan cara pandang terhadap orang lain, serta memilih untuk menghormati sesama bukan karena terpaksa, melainkan karena memang itulah yang seharusnya.

Karena pada akhirnya, perempuan maupun laki-laki, siapa pun berhak merasa aman menjadi dirinya sendiri.

Tentang Penulis
Tri Widiya Arum Rahmatun Nisa (06HUKE01)
Sri Madea Addianty (06HUKE01)
Toni Budi Santoso (06HUKE01)
Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang
Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 2025/2026