Menyoal “Perikemayitan” Fatwa MUI

Pemakaman jenazah pasien covid-19/Antara

Muhammad Yuntri
Pengamat Kebijakan

IMG-20220125-WA0002

Terminologi “mayit” dalam Wikipedia adalah tubuh yang tidak bernyawa. Sebagai perbandingan, kalau bicara tentang kemanusiaan, maka kita kaitkan dengan perikemanusiaan. Dalam tulisan ini perlakuan terhadap mayit, penulis sebut sebagai “perikemayitan”, walau tidak lazim.

Tulisan ini tidak berniat menilai ataupun mengevaluasi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.18 tahun 2020 tentang pedoman pengurusan jenazah (tajhiz al-juna’iz) Muslim yang terinfeksi Covid-19. Bagaimanapun juga para ulama harus dianggap sebagai pewaris dari nilai-nilai dan ajaran Nabi yang perlu ditaati. Dalam konteks ini, Penulis hanya mengingatkan secuil masalah yang mungkin terlupakan sebelum fatwa tersebut diterbitkan.

Sosok mayit harus diisolasi sedemikian rupa, tanpa belaian terakhir dari anak, istri dan saudara kandung. Tiada kedengaran seruan asma Allah, baca Yasinan, Wiridan, dan lain-lain. Harkat martabatnya selama di dunia seolah sirna begitu saja. Beliau dianggap bagaikan bangkai yang jijik, menakutkan dan sangat berbahaya jika didekati. Padahal sebelum masuk rumah sakit, dia begitu diidolakan dan mungkin juga sosok tokoh panutan dengan segala amal jariahnya semasa bersama keluarga.

Atas perlakuan seperti itu, maka secara tidak langsung Fatwa MUI turut pula menghakimi mereka yang belum tentu bersalah. Karena protokol penyelenggaraan jenazah terinfeksi covid-19 yang diterbitkan Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI didasarkan dan diangap sejalan dengan Fatwa MUI No. 18 tahun 2020. Si mayit dianggap mati syahid, dan cukup ditayamumkan saja sebelum dishalatkan.

Bisakah kematian orang terinfeksi corona disamakan dengan syahid ? Bukankah kriteria dan predikat mati syahid menurut hadits Nabi diperuntukan bagi orang yang gugur di medan perang membela agama Allah. Sedangkan mereka yang terinfeksi covid-19 mungkin saja ada di antaranya selalu bermaksiat kepada Allah dan jarang shalat. Apakah mereka itu juga dianggap mati syahid ? Walahualam bissawab.

Video yang viral tentang penyelenggaraan jenazah Muslim terinfeksi covid-19 terlihat begitu memilukan hati dan miris. Mulai sejak si mayit dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan oleh tim petugas yang sama. Kemudian tubuh si mayit dilapisi plastik khusus dan disemprot disinfekstan barulah dimasukkan ke peti mati yang terkunci rapat tanpa celah. Dimasukan ke liang kubur dengan menggunakan tali dan ditimbun dengan tanah. Prosesi tersebut tanpa dihadiri sanak keluarga si mayit. Sedih dan terenyuh sekali.

Sebagai awam, Penulis tidak begitu paham tentang fiqih Islam dan ilmu aqidah yang mendasari Fatwa MUI tersebut. Akan tetapi selalu mendukung dan taat pada Fatwa MUI (sami’na wa atho’na). Kali ini agak berbeda, ada pertanyaan yang menggelitik muncul di benak Penulis dan belum terpecahkan solusinya, antara lain di antaranya :
1. Benarkah penyelenggaraan seperti itu sudah sesuai dengan ajaran Islam yang benar ?
2. Kenapa mayit eks infeksi HIV/AIDS, flu SAR, Mers dan lain-lain yang dulunya juga dianggap palilng berbahaya, tetapi boleh dimandikan dengan layak, tapi tidak untuk mayit yang terinfeksi virus corona ?
3. Berapa besar dampak dari Fatwa MUI ini terhadap kehidupan keseharian umat Islam di Indonesia ? Dan beberapa pertanyaan lainnya yang bersifat lebih khusus lagi.

Agama dan Ilmu
Dengan agama hidup kita jadi benar dan terarah. Sedangkan dengan ilmu hidup kita jadi mudah. Perpaduan di antara keduanya tentulah sangat ideal sebagai pegangan dan pedoman bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupannya dimanapun berada. Itulah bedanya di antara kalian orang-orang yang berilmu sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci.

Seorang dokter Edi Suyanto SpF. SH., MH mengatakan, bahwa secara ilmiah ilmu kedokteran, jenazah kemungkinan menularkan sudah tidak ada, apalagi virus corona, dia harus hidup pada inangnya. Jika inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Halmana sama dengan HIV/AIDS ataupun virus H5N1.

Sebagai perbandingan di sisi lain, mayit penderita HIV/AIDS, jenis penyakit yang dulunya dianggap paling berbahaya dan sangat ditakuti justru mayitnya diperlakukan normal saat meninggal. Begitu juga dengan para penderita virus ebola, virus SARS, Mers, cacar, TB dan lain-lain. Kenapa MUI berlaku diskriminasi kepada para mayit-mayit tersebut. Bukankah mereka juga hamba Allah, rajin juga beribadah. Mungkin di antara mereka ada juga yang dermawan dan tokoh masyarakat yang kebetulan terinfeksi covid-19 di saat stamina tubuhnya lemah dan meninggal dunia karena sudah sampai ajalnya ditentukan Allah.

Karakteristik covid-19 :
Diera digital sekarang, pada waktu yang bersamaan (the same time), secara audio visual kita bisa mengakses berbagai ilmu ataupun pendapat dari para pakar virus atau dokter paru khususnya tentang karakteristik covid-19 ini.

Semuanya bisa diakses melalui media sosial seperti Youtube, WA, Facebook, Twitter dan lain-lain. Ibarat pepatah, satu jarum pentul terjatuh di Jakarta bisa kedengaran bunyinya di waktu yang sama di negara Jerman sana yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari Jakarta.

Mantan Kepala Tim Kedokteran Istana Kepresidenan Dr.Mardjono Subiandono, mengatakan keunikan ciri-ciri covid- 19, antara lain virus jenis ini lebih cepat berkembang biak seperti halnya jamur dan mudah berpindah antar manusia. Hanya berkembang biak melalui droplet (percikan bersin, dahak), dan tidak bisa hidup di tempat kering terbuka dalam beberapa jam. Dan juga tidak bersifat airbone (berterbangan di udara).

Jadi masalahnyapun cukup sederhana. Virus yang tubuhnya terlapisi protein itu akan larut seketika dengan deterjen, cairan asam, cairan garam ataupun alkohol. Dan kalau termakanpun akan mati dengan asam lambung. Covid-19 akan mati pada suhu panas 24 derajat Celcius. Perlakuan untuk jenis virus ini juga tidak jauh berbeda dengan virus influenza, karena virusnya akan mati dengan sendirinya di saat stamina tubuh kita kuat dalam beberapa hari kedepan setelah terinfeksi. Sehingga tiada kecemasan dan ketakutan yang harus berlebihan dalam menyikapinya.

Nasihat pakar virus, sering-seringlah cuci tangan, hindari mengusap muka sekitar mata, hidung dan mulut sebelum cuci tangan, karena lokasi itu tempat masuknya covid-19 ke tubuh kita. Gunakan masker sebagai penyaring percikan droplet virus dari orang yang bersin, sekaligus berfungsi untuk menambah hangatnya napas/udara yang masuk ke tenggorokan melebihi panas 24 derajat Celcius. Apalagi jika dilengkapi penggunaan syal di leher, seperti yang sering digunakan oleh para orang-orang di daerah perbukitan yang udaranya dingin, mereka biasanya menggunakan “kupluk” semacam penutup hidung dan mulut serta leher mereka dari terpaan udara dingin, yang terlihat hanya mata mereka saja.

Karena udara yang masuk ke paru-paru mereka diperkirakan lebih dari 24 derajat Celcius. Ternyata hidup mereka itu sehat-sehat saja, padahal virus sangat nyaman hidup di cuaca dingin. Nasihat lainnya dari para pakar agar kita tidak panik atau terpengaruh dari berbagai berita bombastis tentang dampak virus corona yang bisa membuat stamina tubuh manusia turun drastis yang efektif diserang oleh berbagai penyakit. Sementara keberadaan jenis virus, kuman dan bakteri ratusan bahkan ribuan jenisnya di dalam maupun di sekeliling rumah kita.

Negara tropis dan mayoritas Muslim
Dibanding dengan negara yang 4 musim, posisi geografis Indonesia di daerah tropis sangat menguntungkan para manusianya. Suhu cuaca rata-rata sekitar 25-30 derajat Celcius, kecuali di daerah pegunungan mungkin lebih dingin dari suhu tersebut, atau di ruangan yang ber-AC. Semestinya daerah tropis itu harus disyukuri betul sebagai nikmat hidup pemberian Tuhan yang tidak terhingga nilainya. Virus covid-19 yang tidak tahan panas 24*C tentu akan cepat mati di daerah tropis di cuaca seperti Indonesia.

Hal itu akan berbeda dengan mereka yang hidup di negara yang 4 musim. Apalagi bulan Desember hingga Maret mereka mengalami musim dingin atau salju, sangat memungkinkan virus corona berkembang biak secara cepat dan dahsyat.

Selain itu mungkin juga faktor kebersihan, karena di toilet mereka kebanyakan menggunakan tisu setelah buang air kecil/besar terutama negara-negara yang mengaku modern seperti di negara-negara barat. Mungkin ketersediaan air yang terbatas ataupun kebiasaan mereka tidak menggunakan air saat peturasan (cebok). Sehingga virus selalu menyertai tangan mereka kemana pergi dan secara tidak sadar mengusap mata, hidung atau mulut sebagai pintu masuk ke tubuh manusia, karena jenis virus ini menyerang paru-paru melalui alat pernapasan yang mengakibatkan sesak napas bagi penderitanya. Sehingga tidak heran di sana virus lebih cepat mewabah ke seantero negeri.

Di sisi lain mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Bagi mereka yang taat melaksanakan shalat 5 waktu, minimal 5 kali mereka bersuci/berwudhu sehari semalam dengan air yang mengalir. Apalagi ditambah dengan shalat sunat malam dan mandi 2 kali sehari. Sehingga hampir 3 jam sekali tangan mereka akan dibasuh dengan air, sang virus akan larung bersama air, apalagi jika sekaligus menggunakan deterjen, covid-19 akan mati seketika. Kebiasaan cuci tangan dan hidup bersih adalah modal utama untuk terhindar dari covid-19.

Semestinya kecemasan dan kepanikan bagi Muslim Indonesia terhadap dampak covid-19 ini tidak perlu berlebihan dibanding dengan mereka yang tinggal di negara 4 musim, kecuali bagi mereka yang sedang lemah stamina tubuhnya lebih mudah terinfeksi.

Manusia “fi ahsani taqwim”
Dalam Al-Qur’an, manusia yang diciptakan Allah SWT dengan kualifikasi “fii ahsani taqwim”/sempurna dan dilengkapi dengan antibody untuk melawan berbagai penyakit agar bisa hidup survival di tengah-tengah susah dan sulitnya medan kehidupan termasuk pada saat “pandemi” sekalipun. Kesempurnaan ciptaan Allah SWT atas diri manusia bukanlah sia-sia, karena manusia diberi amanah sebagai “khalifatul fil ardi” pemimpin di bumi ini yang dibekali dengan akal pikiran untuk memimpin semua makhluk ciptaan Tuhan lainnya di bumi, kecuali amanah itu tidak dijalankannya dengan baik atau dilanggarnya.

Menurut pakar medis, pada saat tubuh manusia terserang penyakit (virus, bakteri, kuman, dan lain-lainl), secara otomatis tubuh akan membentuk antibody untuk melawannya. Secara medis, reaksi tubuh yang muncul berupa panas, batuk, mual dan lain-lain. Proses tersebut bersifat sementara, berlangsung selama 5-7 hari, kemudian tubuh kita akan keluar sebagai pemenangnya dan sembuh, kecuali bagi mereka yang staminanya tetap lemah atau masih menderita suatu penyakit lainnya, maka si penderita akan tetap sakit dan bisa berakhir meninggal dunia. Pengakuan yang sama juga dikatakan dokter bahwa kesembuhan itu tergantung kepada kekuatan stamina tubuh, sedangkan fungsi obat hanya sekedar membantu.

Jika penyakit yang sama menyerang kembali, tubuhpun hanya butuh 24 jam untuk membentuk antibody karena sudah adanya “sel memori” dalam tubuh. Kita ingat sewaktu kecil disuntikan vaksin/kuman penyakit yang dilemahkan dimasukan ke tubuh balita, tujuannya tidak lain untuk memperkenalkan jenis penyakit pada tubuh agar segera membentuk antibody selama tenggang 5 – 7 hari dan setelah itu tubuh si anak tidak panas lagi karena memenangkan pertarungan melawan vaksin.

Sebaliknya di sisi lain justru perasaan panik atau kecemasanlah yang menjadi andil besar turun drastisnya stamina tubuh yang berpotensi segera tertulari berbagai penyakit. Mereka yang rentan panik ini terutama yang berusia tua di atas 50 tahun ke atas atau yang sedang mengidap penyakit menahun seperti diabetes, jantung, TB dan lain-lain. Menurut statistik kelompok inilah banyak yang meninggal diserang covid-19. Tetapi secara statistikpun jumlah terinfeksi covid-19 ini yang meninggal persentasenya hanya berkisar 2-3 % saja. Dan cukup kecil jika dibandingkan
persentasenya yang diakibatkan oleh serangan virus HIV/ADS, SARS, MERS, Cikunguya dan lain-lain.

Sesuai ajaran Islam, umat Muslim diperintahkan untuk lebih mengutamakan kebersihan dengan dasar (annaza fatu minal iman, kebersihan itu bagian dari pada iman), selalu menjaga kesehatan dengan memakan dan minum dengan makanan berkriteria halal dan thaiyib (halalan thoiyyiban, tidak dilarang oleh agama dan juga baik bagi kesehatan). Setelah berikhtiar barulah bertawakal mohon perlindungan kepada Allah SWT.

Propaganda dahsyatnya corona
Imbas dari bombastis dahsyatnya berita dari media massa, medsos online, tercipta suasana yang mencekam, seolah-olah dunia ini segera kiamat besok atau lusa dan akan menghabiskan umat manusia yang terinfeksi covid-19 di muka bumi. Muncul kebijakan ekstrim dari penguasa setempat dengan dalih memutus mata rantai covid-19 dan mengurangi tingkat kematian penderita serta berbagai pertimbangan lain seperti terbatasnya ketersediaan tenaga medis dan budget anggaran yang tersedia.

Bahkan di India mereka yang melanggar larangan berkumpul dipukuli oleh aparat negara dengan pentungan dan berdampak kesakitan. Pertanyaannya, yang diperangi itu covid-19 atau melampiaskan balas dendam antar sesama manusia. Sedangkan kepentingan, keselamatan dan perlindungan rakyat adalah hukum yang tertinggi menurut Filsuf Cicero. Atas kejadian tersebut muncul anekdot, terinfeksi covid-19 sebanyak 2.000 orang, yang meninggal 0, dan yang benjol-benjol 700 orang.

Di saat yang sama memunculkan kembali nilai-nilai religi dalam diri manusia untuk segera minta ampun dan perlindungan Tuhan sebagai pencipta wabah, karena manusia dan negara tidak bisa diandalkan lagi sebagai pelindung utama. Tuhan menjadi diagungkan sekali yang selama ini mungkin diimani setengah hati. Sehingga ketaqwaan kepada Allah SWT juga dibarengi dengan unsur syirik karena sangat takut kepada makhluk ciptaan Tuhan dari pada kepada Tuhan itu sendiri.

Atas dasar ketakutan yang berlebihan itulah muncul berbagai maklumat untuk menutup rumah-rumah ibadah untuk beberapa waktu. Padahal selama ini diimani justru di rumah Tuhan itulah do’a manusia lebih afdhal dan diijabah oleh Tuhan. Bahkan setiap langkah menuju tempat ibadah diperhitungkan dengan pahala yang berlipat ganda. Pemisahan umat beragama dengan rumah ibadahnya bukankah sangat diinginkan oleh ideologi komunis ? Karena mereka menganggap agama itu bagaikan candu, maka dari itu iman dan aqidah mereka harus dihancurkan sebagai penghambat lajunya pertumbuhan ideologi komunis di masyarakat.

Sehingga muncul pertanyaan, apakah dalam menghadapi wabah covid-19 ini, manusia cerdas dipermukaan bumi sudah kehilangan akal dengan berbagai ilmu dan imannya kepada Tuhan ?

Padahal di sisi lain, dengan penerapan mazhab hukum “law is a tool of social engineering” sikap dan perilaku masyarakat bisa ditata ulang/dirubah untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 tersebut di kalangan masyarakat.
Misalnya membuat S.O.P khusus untuk memasuki dan keluar masjid di satu pintu yang sama, bagi yang sakit dilarang masuk masjid (shalat di rumah saja). Berwudhu dulu di masjid tersbut sebelum shalat. Di dalam masjid disediakan hand sanitizer untuk digunakan saat masuk dan keluar pintu masjid. Juga disediakan water dispenser untuk minum membasahi tenggorokan jika diperlukan. Make it simple and secure, no fright.

Sungguh ironis memang, bahkan “satire” kenapa rumah ibadah tempat suci untuk meminta perlindungan Tuhan justru harus dijauhi. Terkesan tempat-tempat suci tersebut disinyalir punya andil besar sebagai penyebar virus covid-19 yang efektif. Padahal di salah satu media online, Okezone tanggal 2 April 2020, yang berjudul “144 Jamaah yang Dikarantina di Masjid Kebon Jeruk Negatif Corona.”

Bahkan, di negara Jerman ada gereja yang sengaja meminta dikumandangkan suara adzan saat akan dilaksanakannya Misa. Halmana seolah meyakini bahwa suara adzan atau suara murotal bacaan Al-Qur’an bisa memperlemah atau mematikan virus covid-19 sebagaimana hasil survey yang mereka lakukan terhadap covid-19 dengan suatu alat elektronik dan yang mereka perbandingkan saat diputarkan suara musik biasa, ukuran grafik dari covid-19 malah menjadi besar. Begitu juga berita pasien positif corona jadi negatif setelah rajin mengaji, sebagaimana yang diberitakan Gatra.com tanggal 3 April 2020 pukul 13.39 WIB.

Kesimpulan :
Semua uraian diatas, merupakan rangkuman yang penulis simpulkan dari berbagai informasi melalui medsos dan
media mainstream dan mencoba menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  • Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa tidak mungkin sia-sia menciptakan suatu makhluk. Manusia diciptakan Nya dengan predikat “fii ahsani taqwim” telah dibekali dengan otak pikiran yang cerdas dengan perintah mencari ilmu sepanjang hidupnya dan tetap berpengang teguh kepada ajaran Rasulullah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, mengutamakan kebersihan (annazafatu minal iman) dan selalu menjaga kesehatan dan memperkuat stamina tubuh dengan memakan dan minum dengan yang halal dan baik (halalan thoiyyiban) sehingga bisa menjadi pemimpin “khalifatul fil ardi” di muka bumi ini bagi semua makhluk di bumi, sehingga bisa survival dan mengatasi berbagai kesulitan di tengah berbagai bahaya dalam kehidupannya termasuk bahaya yang ditimbulkan wabah covid-19. Maka atas kepatuhannya menjalankan ibadah kepada Allah SWT selama hidup di bumi sangatlah pantas jenazahnya diperlakukan atau diselenggarakan secara baik sesuai kaidah agama Islam, dan sangat tidak tepat jika diperlakukan seperti bangkai yang menjijikan dan dianggap berbahaya bagi manusia lainnya.
  • Sesuai telaah ilmu pengetahuan khusus tentang covid-19 dari para pakar, makhluk ini tidak jauh berbeda bahaya yang ditimbulkannya dengan wabah penyakit lainnya seperti HIV/ADS, SAR, Mers, Cikunguya dll, walaupun tingkat pengembangan biaknya cukup sporadis cepat, tetapi tubuh manusia yang dibekali antibody akan bisa mengalahkan virus tersebut dalam waktu relatif cepat, asalkan tetap menjaga stamina tubuh setiap saat, bahkan bisa terhindar sama sekali. Sehingga ketakutan yang berlebihan bahkan panik dalam menghadapi dan menyikapi dampak yang bakal ditimbulkannya sangatlah tidak tepat. Bahkan beberapa kota di negara China sendiri, seperti Beijing dan Sanghai, begitu di Kota Tokyo Jepang tidak menunjukan dampak yang signifikan oleh covid-19 ini yang menandakan wabah ini tidak diatasi dengan baik jika berikhtiar, sabar sebelum bertawakal kepada Allah SWT.

Harapan terhadap Fatwa MUI

Tidak ada yang salah dengan dalil fiqih dan aqidah yang digunakan MUI untuk fatwa tersebut. Apalagi telah berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah, berdasarkan Al-Qur’an dan hadits serta mengambil contoh sikap Khalifah Umar dalam menyikapi suatu keadaan pandemi di daerah Syam di masa belasan abad yang lalu itu.

Hanya barangkali ada sedikit perbedaannya, yaitu dari sisi era digital dan canggihnya teknologi saat ini, dimana pada waktu yang bersamaan ataupun relatif sangat singkat, manusia zaman now bisa langsung mengurai karakteristik dan seluk beluk jenis wabah secara spesifik beserta kelemahannya dan sekaligus cara mengatasinya. Sehingga informasi tersebut mungkin bisa jadi bahan pertimbangan sebelum fatwa diterbitkan.

Mudah-mudahan tidak ada tahapan proses yang terlupakan. Karena bagaimanapun juga setiap fatwa tersebut selain harus teruji dan terukur juga harus bermanfaat dan menjunjung nilai-nilai moralitas yang tinggi, yang harus pula dibuat dan diputuskan secara independen dengan berbagai ikhtiarnya dalam bekerja. Dan bukan pula fatwa tersebut menyesuaikan dengan pesanan oknum tertentu yang punya kepentingan yang tidak diketahui maksud dan tujuannya oleh umat, baik terkait politik, ekonomi, ideologi dan sebagainya. Seperti yang pernah Penulis lihat di TV saat teleconference antara salah seorang gubernur dengan Wapres R.I dalam konteks masalah mudik di saat wabah covid-19, yang meminta Wapres yang juga Ketua MUI non aktif, agar MUI bisa menerbitkan fatwa untuk membantu gubernur sebagai Umara dalam mengatasi berbagai permasalahan mudik saat ini.

Walau sudah tidak bernyawa, si mayit yang dulunya punya harkat dan martabat sebagai manusia, hendaknya tetap diperhatikan “perikemayitan-nya” dalam Fatwa MUI sebagaimana ajaran agama Islam, yang mulia di sisi Allah SWT. Berharap MUI membuat amandemen atas Fatwa No.18 tahun 2020 tersebut dengan memperbolehkan pihak keluarga kandung (anak, isteri, suami) atau keluarga terdekat untuk menyelenggarakan jenazahnya dengan baik serta mensyaratkan penggunaan pakaian khusus agar tidak terjangkit covid-19 dan segera membersihkan diri mereka secara total/mandi sekujur tubuh setelah selesai menyelenggarakan jenazah si mayit di tempat yang disediakan di lokasi penyelenggaraan jenazah tersebut.

Insya Allah aman, dan berharap, bermohon dan bermunajat serta berserah diri kepada Allah SWT untuk mendapat perlindungan-Nya kapan saja dan dimana saja tanpa rasa sombong atau takabur.

Jakarta, 9 April 2020
Penulis,
Muhammad Yuntri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.